PERJALANAN MENUJU “PERADABAN”

Hai semua, lama ga nongol melalui tulisan. Akhir-akhir ini aku lagi terlibat aktif bersama sebuah tim untuk menyebarkan hal-hal positif, dan aku cukup senang terlibat di dalamnya karena dipaksa terus belajar hal-hal baik. Maaf belum nerusin tulisan laporan jalan-jalanku, hati “nggrantes” rasanya tiap inget kisah keluyuran terdahulu, pengen jalan lagi tapi situasi belum memungkinkan (geer banget kalo banyak orang yang bakal nungguin ceritaku, sadar woe, ga ada jugak yang nungguiiiinnnn!!!)

Kali ini aku pengen bercerita gimana perjalanan spiritualku. Bukan, ini bukan kisah seorang wanita shaliha yang tekun beragama. Ini kisahku, kisah seorang manusia yang tetiba mempertanyakan keberadaan dirinya dan agama. Kisah seorang anak yang meyakini bahwa Tuhan ada, namun meragukan validitas agama. Ya, itulah aku, yang sempat menganggap esensi agama tidak ada, yang ada hanya Tuhan yang Maha Baik dan menyuruhku untuk berbuat baik. Salah?? Ternyata tidak sepenuhnya salah. Sebelum kalian menganggap ini kisah pembenaran paham agnostik, ada baiknya baca dulu sampe kelar, baru berikan penilaian.

Aku terlahir di keluarga yang taat beragama. Meskipun begitu, ayahku sangat demokratis, dan selalu menyuruhku mencari “Tuhan”ku sendiri. Tidak pernah terlewat sehari pun bersama beliau tanpa diselingi diskusi logika. Ya, beliau berusaha menanamkan logika padaku. Beliau selalu bilang bahwa agama itu logis, selalu sejalan dengan akal. Makin bertambah usiaku, makin sibuk aku dengan urusanku sendiri. Aku tinggal jauh dari beliau, sehingga diskusi kami makin jarang. Sampai saatnya beliau berpulang, padahal aku merasa belum menemukan apa yang beliau amanahkan, yaitu “Tuhan”.

Seiring berjalannya waktu, aku mulai meyakini Tuhan itu tidak terbatas pada agama. Aku benar-benar percaya keberadaan Tuhan, tapi aku bersikap skeptis terhadap agama. Agama hanya sebatas “partai politik”, yang mencari pengikut sebanyak-banyaknya, agar mencapai tujuannya di dunia. Hal itu bukan tanpa alasan. Aku melihat agama-agama penuh noda keegoisan manusia. Agama menjadi alasan manusia tidak memanusiakan orang lain. Lalu aku pun bertanya, “Apa esensi beragama? Karena hakikat ber-Tuhan adalah berbuat baik kepada sesama makhluk”.

Akhirnya aku menjadi makhluk yang “tidak beragama”. Ya di KTP aku tetep beragama (kalo ga beragama tar ga bisa jadi WNI dong gaiz), tapi secara ritual tidak. Agamaku adalah kebaikan, meskipun ga selalu baik setiap waktu)

Semua aturan keagamaan yang tidak ada sangkut pautnya dengan kebaikan terhadap makhluk lain aku singkirkan. Ya, menurutku itu tidak esensial. Buat apa ibadah terus-terusan sampe lutut lecet tapi menghalalkan darah manusia lain?? Buat apa menghindari barang haram tapi dimabukkan oleh fanatisme sempit dan menganggap dirinya yang paling suci?? Hakikat “mabuk” menurutku bukanlah minum miras, tapi hilang kesadaran dan identitas diri sebagai bagian dari ciptaan Tuhan, yang jelas diberi tugas untuk berbuat baik di muka bumi.

Semakin lama aku tidak meyakini konsep agama, membawaku mempertanyakan tujuan Tuhan menciptakan alam semesta. Kenapa sih Tuhan menciptakan manusia dengan akal dan nafsunya? Kenapa Tuhan membuat scenario kehidupan seperti ini? Apakah Tuhan sedang iseng dan ingin main rumah-rumahan? Aku yakin pemikiranku salah, karena Tuhan Yang Maha Baik tidak mungkin iseng dan menciptakan kesengsaraan. Hal ini membuatku mempertanyakan kebenaran logikaku. Dari sinilah titik balik pencarianku dimulai.

Aku sering bertanya di forum-forum socmed dengan nama anonym, mempertanyakan tujuan Tuhan menciptakan manusia. Kenapa anonym? Apakah aku takut? Ya, aku takut terhadap justifikasi manusia beragama yang sedang “mabuk”, aku takut orang-orang tercintaku akan menghadapi penghakiman dari khalayak jika tau orang terdekatnya tidak memiliki keyakinan yang sama dengan kebanyakan orang. Aku takut pikiran kritisku akan diputus, digantikan dogma “pokoknya”. Dan memang kenyataannya begitu, semua yang melihat atau mendengar pertanyaanku akan bergidik dan menghakimiku dengan berbagai sebutan yang…ah, sudahlah…untungnya aku pake akun anonym, hahahahaha…

Forum-forum tersebut tidak pernah menjawab inti dari pertanyaanku, dan karena minimnya kesempatan diskusi yang diberikan, aku menyerah. Pertanyaan itu masih berakar di kepalaku, tidak sekalipun hilang. Setiap aku menanyakan ke orang yang kukenal, mereka menyuruhku segera memohon ampunan kepada Tuhan. Kenapa harus meminta ampunan karena sedang menggunakan akal?? Hal ini tidak bisa kuterima, yang membuatku makin jauh dari teman-temanku yang taat beragama.

Ada seorang teman, kami sangat jarang bertemu, tapi dia selalu mengawali chat denganku dengan ucapan-ucapan sederhana. Dia orang yang taat beragama, sering mengikuti pertemuan keilmuan tentang agama. Dia tinggal di tempat yang jauh dariku, sehingga aku tidak terlalu tau kabarnya. Suatu hari dia memberikan aku link suatu presentasi keilmuan agama. Entah dari mana, dia bilang “Kamu bisa tanya apa aja Nira, ga usah takut, ga nyambung sama tema pembicaraan juga gapapa, peserta pertemuan seneng banget ndengerin pertanyaan peserta lain dan jawaban dari narasumbernya.”

Mungkin Tuhan Yang Maha Baik itu sedang mengirimkan seseorang untuk menuntunku, karena Dia sudah tau aku mulai lelah dan sebentar lagi menyerah. Entah ada niat dari mana juga, aku masuk dalam forum itu, awalnya aku belum bertanya, namun sahabatku itu terus mengusikku untuk bertanya.

Lalu aku memberanikan diri menuliskan pertanyaan, yang menjadi milestone pertamaku “kembali” kepada agama.

“Mengapa Tuhan menciptakan manusia?” tulisku dalam forum itu.

“Pertanyaannya perlu saya koreksi, yang benar adalah, ‘mengapa manusia diciptakan?’” Narasumbernya menjawab demikian.

Sekilas aku bingung apa maksud dari pernyataan beliau, tapi beliau langsung melanjutkan, “Ketika kita menjadikan Tuhan sebagai subjek, maka kita beranggapan Tuhan lah yang membutuhkan penciptaan manusia. Kenyataanya tidak, manusialah yang butuh, dan manusia diciptakan untuk menghamba, karena mereka butuh.”

Jawaban ini di luar perkiraanku, karena selama ini aku menjadikan Tuhan sebagai subjek yang memerlukan penciptaan manusia, kenyataannya sebaliknya. Sesederhana itu dan membuat aku sekian lama menyimpan prasangka terhadap Tuhan Yang Maha Baik. Setelah menjawab dengan mukadimah itu, beliau melanjutkan dengan pendekatan logika dan filsafat. Komentar peserta lain dalam forum tersebut sangat positif. Tidak ada 1 komentar pun yang menyuruhku segera mohon ampun maupun mengisyaratkan aku adalah manusia yang tersesat. Betapa otakku yang mendidih ini seperti mendapatkan siraman air sejuk, jadi adem. Sejak saat itu aku sering berkunjung dan meninggalkan pertanyaan.

Pertanyaan yang menjadi milestone kedua adalah, “Mengapa kita harus beragama? Apa esensi agama itu?”

“Esensi dari agama adalah peraturan. Seluruh manusia perlu untuk beragama agar beradab. Semakin sempurna peraturan suatu negara, semakin beradab negara tersebut. Seperti itu juga manusia, kita butuh peraturan, agar hidup kita beradab.” Sang narasumber menyampaikan jawabannya.

Kalimat itu membuatku tersadar, aku sebaiknya beragama agar menjadi manusia beradab, tidak cukup hanya dengan ber-Tuhan. Lebih persisnya, aku BUTUH memiliki agama. Lagi-lagi sesederhana itu. Tuhan Yang Maha Baik membuka hatiku dengan secepat kedipan mata. Kalau meminjam bahasa kitab suci, “Jadi, maka terjadilah”, itu yang seketika aku rasakan.

Tuhan mengembalikan aku kepada-Nya dengan cara yang sangat halus, sangat indah, sangat masuk akal, tanpa paksaan, tanpa penghakiman. Aku benar-benar bersyukur menjadi manusia berakal, yang menggunakannya untuk mencari Tuhan dan kebenaran.

Oia, jawaban narasumbernya ga sesingkat yang aku tulis lho ya, beliau menjelaskannya dengan terperinci, membedahnya satu-persatu dengan logika, yang dengan keterbatasan lisanku ga bisa aku jelasin di sini. Terima kasih kepada saudaraku, DEA DAVITA DEWI, yang sudah sangat persisten menggandeng tanganku. Maaf, tapi namamu memang WAJIB masuk dalam tulisan ini.

Japan 2019 Departure; JOG-CGK-NRT

Yak, lanjut ceritanyaaa….

Di hari yang berbahagia, berangkatlah 3 orang anak muda ke Jepang; sebut aja Nir, Nung, dan Mbel. Satu orang lagi (yang udah pernah ke Jepang, sebut saja Komet) baru menyusul sehari setelahnya. Kenapa bisa begitu??? Ini akibat beli tiket promo, jadinya ya seadanya tanggal aja, hahahahaha…

Bermula dari Jogja, menuju Jakarta. Ada sedikit drama kelebihan bagasi di Bandara Adi Sucipto. Pesawat yang kami naiki hanya memfasilitasi bagasi 15kg, sedangkan koper njemblung kami masing-masing 18kg, 18kg, dan 13kg. Subsidi silangnya ga masuk sodara-sodaraaaa….Akhirnya kami harus bayar, Rp.117.000,-/kg kixanax!!! Nahini, kaum miskin uang cash kelimpungan karena mereka cuma nerima pembayaran cash ato pake credit card, dan ternyata metode pembayaran kedua makan waktu lama yang bikin kami dilirikin sama antrian check-in yang mengular.

Sampe di Soekarno-Hatta, sambil agak-agak bingung oon gitu kami nyari skyliner, ato istilahnya kalayang,kereta gretongan antar terminal bandara Soekarno-Hatta, menuju terminal 3. Maklum kami dari jogja ga naik maskapai yang mihil itu, jadi berentinya di terminal 2. Karena ndeso yaudah sih di dalem kalayang kami sibuk poto2, hahahahahaha…

IMG_20190311_181058[1]

penampakan platform skyliner Bandara Soekarno-Hatta 

Sesampainya di terminal 3 kami ga langsung check in, tapi makan dulu sambil nola-noli karena counter check-in nya belom buka. Setelah counter dibuka, kami meluncur sambil memantau perbedaan karpet di counter ekonomi, premium ekonomi, bisnis, dan first class. Oia, ekonomi ga ada karpetnya ding, fufufufufufu…

img_20190311_2057031.jpg

ini foto ga penting, tapi pengen aja aku upload

Sungguh keapesan yang nyata, nama di tiketnya si Mbel beda sama nama di paspor (dasar Mbel). Jadilah dia tertahan ga bisa check-in, padahal boarding time makin dekat. Pihak maskapai meminta si Mbel menghubungi pihak travel agent tempat dese pesen tiket buat mengirim ulang e-ticket nya, dengan revisi nama. Waktu boarding makin mepet, tapi kami belom masuk imigrasi, pihak penyedia tiket juga ga ngirim-ngirim email. Setelah berjibaku melawan kegundah-gemulaian, kesabaran membuahkan hasil, si Mbel diijinkan masuk lah pokoknya. Padahal kami udah siap-siap nyariin tiket buat dia balik ke jogja, hihihihihihi…

Begitu urusan di counter check-in kelar, kami langsung wuzz ke imigrasi, alhamdulillah imigrasinya ga pake antri, jadi kami langsung wuzz bisa masuk ke ruang tunggu. Ga terlalu lama di ruang tunggu, kami langsung dapet panggilan boarding. Kami ambil flight malam, biar selama perjalanan bisa bobok, dan mengoptimalkan waktu di Jepang. Ingat!! Hemat pangkal kaya, rajin pangkal pandai, anak yang pemalas itu tidak naik kelas!!! (ga nyambung yoben)

IMG-20190312-WA0001[1]

si Mbel duduknya misah, jadi ga kepoto

Oia, aku pesen vegetarian food dan temenku pesen moslem food buat perjalanan kami selama di pesawat Jepang itu…dan -tanpa mengurangi rasa hormat dan syukur kami- makanannya ga ada rasanya gaes…ga dimakan sayang, dimakan sedih…tapi karena sikap tanggung jawab kami yang begitu besar, kami tetep makan sambil mbayangin lagi makan cireng…

IMG_20190311_220926[1]

tampak cantik kan makanannya…jangan lupa baca Bismillah dulu, biar ga terlalu sedih…

Konon suhu di Tokyo 14-18 derajat selsius, jadi dalem tas ranselku udah ada sebiji jaket hangat buat persiapan keluar bandara. Pas turun emang udara sejuk langsung menyambut sih, tapi ITU MASIH DI DALEM BANDARA, jadi masih pake heater. Kesejukan itu bukanlah suhu Tokyo saudara, tapi suhu bandaranya, hahahahahaha…

IMG_20190312_035138[1]

おはようございます、日本…

IMG_20190312_065811[1]

Narita International Airport

Alhamdulillah imigrasi ga antri juga, jadi langsung wuzz bisa lewat tanpa pertanyaan berarti. Keluar dari imigrasi, kami langsung ambil duit dari ATM internasional, trus beli e-money bernama SUICA, dari vending machine. Gimana kami bisa tau caranya?? Ya tanya lah sama petugas. Pake bahasa apa?? Bahasa “salah paham”; meski salah, yang penting paham, hahahahahaha…

 

Aktivasi JRpass kami tunda sampe besok harinya, mengingat harga tiket kereta yang mihil itu baru bener-bener kerasa pas pake shinkansen. Seperti yang aku bilang di postingan sebelomnya, kami cuma beli paket JRpass yang 7 hari, maklum, paket backpacking ngesot.

IMG_20190312_104618[1]

subway platform menuju Asakusa

Berbekal aplikasi “Japan Travel”, kami naik kereta Keisei Line menuju Asakusa, tempat apartemen kami berada. Alhamdulillah untuk kereta pertama ini ga nyasar. Pertama kali keluar dari stasiun agak kaget sih, soalnya di stasiun suhunya hangat, pas keluar eh udah dingin aja. Tapi masih acceptable lah buat kami yang terbiasa di dalam kamar operasi, tapi ya tetep pake jaket, maklum lah yes namanya juga makhluk ekuator. Kami keluar dari exit A5, yang ternyata jaraknya jauh dari apartemen, padahal apartemen kami cuma berjarak 50 meter dari exit A1, ngooookkk…

Sampe di apartemen alhamdulillah lagi kami boleh early check-in, jadi bisa bongkar barang, cuci muka, dan konsolidasi internal dulu sebelom wuzz lagi menelusuri jalanan Tokyo.

Udah segini dulu ya keberangkatan, next ada laporan perjalanan selama di Jepang. Insyaallah lebih panjang and lebih seru, soalnya 11 hari dengan segala kekonyolan yang paten bukan kaleng-kaleng, hahahaha…

 

PS, pengeluaran selama berangkat:

  • Roti O: Rp.11.000,-
  • Kelebihan bagasi 468rb (dibagi berdua): Rp.234.000,-
  • Makan malem di bandara: Rp.50.000,-

Japan 2019 Prelude; Fase Mimpi dan Menabung

Suatu hari aku pernah bercita-cita ke Tokyo, waktu itu aku janjian sama temenku kalo kami bakal ketemuan di Tokyo, bukan sekedar jalan-jalan, tapi dalam suasana akademis. Waktu terus berlalu, temanku diberi kesempatan belajar di Eropa, sedangkan aku belajarnya tetep di Indonesia aja, maklum anak interlokal, bukan internasional, hahahahahaha… Mimpi itu gak pernah sekalipun aku lupain, masih sama. Dan beberapa belas tahun kemudian alhamdulillah aku diberi kesempatan ke Jepang, dengan acara akademik sebagai salah satu alasannya, hehehehe…

Ada suatu konferensi di Nara, Jepang. Meskipun bukan di Tokyo, tapi kan tetep di Jepang, hahahahaha…(lumayan dapet alibi)

Begitu ada pengumuman adanya suatu konferensi, aku langsung tertarik. Uang? Jangan bahas masalah itu, saat itu aku cuma seorang peserta didik yang ga punya kerjaan, mana mungkin punya uang?? Berbekal kenekatan, aku mengunci acara itu jadi salah satu target keberangkatanku. Waktu berlalu, aku terus menabung demi terbelinya tiket ke sana dan ongkos keikutsertaan di konferensi itu. Akhirnya Tuhan mengabulkan keinginanku, dapet tiket promo suatu maskapai ternama, sebut saja J*L, dengan tarif spektakuler murahnya.

Kewajiban setelah tiket terbeli adalah membuat itinerary, sekalian nentuin penginapan yang akan kami tempati. Pahamilah saudara, membuat itinerary itu sangat menyenangkan sekaligus memusingkan. Apalagi milih hotelnya, sampe kudu “metani” 3 hari 3 malam. Padahal yang bikin itinerary udah orang 2, dan salah satunya pernah ke Jepang. Kenapa itinerary ini penting dibikin di awal?? Ya karena bikin visa kudu nyantumin itinerary and tempat nginep. Oia, tips memilih penginapan di Jepang adalah sebisanya yang paling deket sama stasiun ya, soalnya kalo jauh jalannya capek, ga ada ojek online cui, taksi juga harganya mihil. Selain itu juga pastikan ada perlengkapan kehidupan seperti microwave, mesin cuci, dll biar kita bisa makan nasi dengan bahagia and ga perlu bawa baju banyak-banyak. Untuk penginapan kami nyari di aplikasi a*rbnb.

itin fixed

gini nih itinerary nya, bikinnya 3 hari 3 malem, begadang dengan numpang di kamar hotel yang wifi nya kenceng (keliatan ga??)

Nah udah kelar nyari penginapan sampe teler, giliran bingung ngurus visanya, karena tabunganku harus mencapai angka yang terbilang besar untuk ukuran pelajar, dengan cara yang wajar. Lagi-lagi aku makin yakin perjalanan ini direstui Tuhan, tabunganku terisi perlahan hingga mencapai nominal itu dan berhasi membuat visa. Setelah visa dipastikan, datanglah lagi kebutuhan lain; kebutuhan transportasi, tiket wahana, dll. Perlahan tapi pasti satu persatu kebutuhan di sana bisa terpenuhi, alhamdulillah. Total pengeluaran hingga visa selesai bakal aku tulis di bagian bawah tulisan ini.

Setelah kebutuhan yang bisa disiapkan dari tanah air terpenuhi, giliran aku nabung lagi buat uang saku selama di sana. Karena paket JRpass yang aku beli cuma buat 7 hari, jadi sisa harinya ya aku harus pake e-money nya Jepang gitu deh…

Dari teman seperjalanan yang pernah ke Jepang sebelumnya, aku dapet info kira-kira duit yang diperlukan buat makan dan transport (tiket kereta/bus non JR) sekitar 5 juta, kalo mau nambah beli oleh-oleh, sepatu, baju, dll ya ditambah lagi sesuai kebutuhan. Dengan berbekal informasi itu aku rajin nabung, sampai hari keberangkatan tiba.

Hikmah yang bisa diambil dari prelude ini adalah: nekad aja beli tiket dulu, dan nanti kita akan punya niat yang lebih besar buat nabung. Oke, sampe segini dulu, lain kali sambung lagi di chapter selanjutnya (semoga segera, aamiiin…)

 

PS, pengeluaran dari tanah air:

Tiket PP CGK-NRT-CGK (promo): Rp. 5.100.000

Tiket JOG-CGK: Rp. 410.000

Tiket CGK-SRG: Rp. 530.000

Penginapan 11 hr Rp. 21.000.000: @ Rp. 5.250.000

Visa (via travel agent): Rp. 725.000

Universal Studio Japan (USJ): Rp. 1.150.000

Disney sea: 980.000

JRpass (7 hari): Rp. 3.850.000

Wifi (router) 11hr: Rp.650.000

“Log Book”

Alhamdulillah, bertemu dengan Bulan Ramadhan lagi taun ini…

Kebetulan ketika sengaja agak berlama-lama di masjid, aku melihat antrian anak-anak kecil, mengerubuti imam masjid sambil menyerahkan buku untuk ditandatangani. Hal ini mengingatkanku akan sejarah log book. Ya, log book pertama dalam hidupku yang berjudul “Amalan Bulan Ramadhan”. Buku itu semacam upaya pembiasaan bagi anak-anak untuk banyak melakukan ibadah selama bulan Ramadhan, yang di sisi lain ternyata bisa jadi metode pembiasaan melakukan kebohongan dan memalsukan tanda tangan. Sungguh pedang bermata dua.

FYI, aku berada di keluarga yang cukup besar dan dengan keadaan yang sedikit berbeda dari lingkungan tinggalku. Perbedaan ini membuatku (dan kakak-kakakku) cukup didzolimi selama masa kecil kami, istilah kekiniannya “korban bullying”, sehingga semua amalan ibadah bulan Ramadhan kami lakukan di rumah langsung di bawah pengawasan Walid (Bapak), waktu itu beliau minta aku beribadah di rumah saja untuk melindungi perkembangan psikologisku selama bulan Ramadhan. Walid ga mau anaknya jadi membenci bulan penuh rahmat ini hanya karena ulah orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Buat yang penasaran kenapa Walid juga ga ke mushola, karena mazhab Walid berbeda dengan penduduk sekitar, jadi ya Walid cuma ke mushola tiap sholat subuh, toh di rumah juga ada kami yang selalu menantikan beliau menjadi imam sholat kami. Meski begitu, aku dan kakak-kakakku tidak pernah dipaksa oleh Walid untuk mengikuti apa yang beliau yakini, beliau selalu membuat aku berpkir tentang Tuhan tanpa menghakimi. Di saat yang sama, beliau tetap mengajari kami cara beribadah dan berdoa, agar kami punya tempat “pulang” bila dunia sedang tidak ramah. Dan Ummi (Ibu), adalah seorang wanita pemberani yang tidak pernah diam ketika anaknya dianiaya, tapi akibatnya Ummi sering “berurusan” dengan tetangga karena anaknya jadi korban bullying. Akhirnya ya mending memang kami ga keluar rumah daripada jadi gila, hahahahaha…

Ya, temen-temen sedang membaca tulisan dari seorang mantan korban bullying, yang dengan dukungan orang tua dan keluarga mampu bangkit menyeka air matanya. AND I AM PROUD OF IT, I AM BLESSED FOR HAVING YOU DEAR WALID AND UMMI.

Kembali ke log book. Karena hampir semua list ibadah di log book itu aku lakukan di rumah, maka buku itu penuh dengan tanda tangan Walid, dan aku pun bangga karena buku itu bisa terpenuhi dengan penuh kejujuran. Setelah acara Halal bi Halal, buku ini dikumpulkan ke guru agama. Guru agamaku sangat baik, beliau bagai oase di SD pertamaku yang kejam, tapi aku agak menyesalkan kebijakannya waktu itu. Entah karena apa guruku memeriksa buku Amalan Bulan Ramadhan milikku (yang belakangan aku tau bahwa biasanya buku itu tidak pernah diperiksa), dan menemukan semua tanda tangan beratasnamakan Walid. Aku dipanggil ke kantor, ditanya mengenai hal itu. Aku menjawab dengan polos bahwa Walid tidak mengijinkan aku pergi ke mushola karena aku pasti pulang dengan menangis akibat ejekan dan kekerasan fisik yang kerap aku terima. Bu guru mengatakan bahwa aku harus bersikap baik, aku harus berani, tidak boleh menangis, dan bertahan dalam kondisi itu. Aku menghormati dan menyayangi beliau, namun kali itu aku sedih, karena beliau tidak tau apa yang selama ini aku alami. Mungkin guruku belum pernah melihat langsung bullying yang dilakukan anak-anak kepada anak-anak lain. Anak-anak yang katanya polos itu benar-benar mengikuti orang dewasa di sekitar mereka tanpa “filter”, mereka lakukan apapun yang membuat mereka mau tanpa berpikir panjang, dan semua orang akan maklum karena mereka masih “anak-anak”. Lalu apa kabar anak-anak polos yang terdzolimi??? Psikologis nya akan hancur, menarik diri, menganggap dirinya tidak berharga, dan bisa jadi berakhir pada gangguan kepribadian ketika usianya beranjak dewasa.

Menjelang bulan Ramadhan berikutnya, log book yang baru kembali dibagikan. Secara khusus guru agama memanggilku, dan menyuruhku ikut kegiatan di mushola dekat rumah. Sambil menahan air mata, aku mengiyakan perintah beliau. Kakak-kakakku tidak pernah mendapatkan perintah serupa dari gurunya, entah kenapa. Mereka menyarankanku untuk mengisinya sendiri, dan nanti akan ditandatangani oleh kakak-kakakku dengan variasi tanda tangan yang banyak, agar meyakinkan. Aku masih polos, aku yakin itu adalah kebohongan yang membuat pundi-pundi dosaku bertambah. Aku menolak, dan memilih untuk berangkat ke mushola di malam-malam awal bulan Ramadhan waktu itu, berbekal pesan dari Walid harus segera pulang jika ada yang jahat. Aku sukses bertahan sampai selesai selama beberapa hari dengan berusaha tidak mengindahkan cemoohan yang ditujukan kepadaku, dan lebih fokus pada kultum yang tidak bisa kupahami karena menggunakan bahasa yang tidak biasa kupakai di rumah, kemudian ditutup dengan menangis sebelum tidur secara diam-diam. Oia, kultum nya tidak pernah tepat 7 menit, selalu 2x lipat atau lebih…

Karena udah ga tahan, aku memutuskan mengikuti kata kakak-kakakku tanpa konsultasi dengan orang tua. Walid sempat menanyakan log book ku untuk beliau tanda tangani, aku berbohong bahwa sekarang buku itu tidak lagi perlu ditandatangani, seperti halnya kakak-kakakku yang tidak pernah meminta tanda tangan Walid di log book mereka. Buku “Amalan Bulan Ramadhan” ku taun itu penuh tanda tangan yang bervariasi. Dan aku sukses menjadi seorang penipu cilik bagi guruku. Taun-taun selanjutnya aku melakukan hal serupa, sambil sesekali tetap mengikuti acara kajian di masjid yang jaraknya jauh dari rumah untuk mengurangi rasa bersalah akibat kebohonganku di log book itu.

Untuk guru Agama yang sangat baik selama saya SD, saya benar-benar minta maaf, sekarang si Arab kurus pendek cengeng sudah besar dan pandai melawan, jadi kalo dikasih buku log book lagi, ga perlu malsu tanda tangan….:p

The World will Smile with you…

Pernah ga ngerasain bahagia tanpa alesan yang jelas? You just happy, with your daily, without any reason. No special one contacts you, no spectacular event happens, no difference to other casual day.

Aku mau cerita dikit tentang itu. Bagi sebagian besar orang moment ini adalah long weekend, tapi bukan buatku, karena harus on call and on duty. Semua temen main lagi pada liburan, jadi palingan aku keluyuran sendiri kalo lagi pengen aja. Traveling? Just keep that word away for a while cause I don’t have any chance to do that for months…

Bangun pagi, seperti biasa, tapi aku sudah mulai tersenyum. Lanjut jogging, sepanjang lari juga senyum-senyum sambil nyanyi ngikutin playlist dari headphone-ku. Aku menyapa setiap orang yang berpapasan dengan senyuman, hangat, tidak ada rasa terpaksa sedikit pun. And as expected, most of them gave me smile too, effortlessly. Yang ga bales senyum mungkin lagi ga ngeh aja…

Angin sepoi-sepoi bulan Desember makin bikin bibir ini urung kembali ke posisi normal. Aku yakin ekspresiku selama lari itu bikin orang orang yang liat bakal pengen ikut lari juga. No new achievement in my running record that morning, jarak tempuh tetap, waktu tempuh pun. Semuanya tampak biasa saja.

Pulang lari senyumku makin terkembang lebar. Malas rasanya masuk ke kamar, aku duduk selonjoran depan kosan sambil menikmati angin yang seperti ngajakin nari-nari, tapi untung aku inget itu komplek padat penduduk yang tiap detik banyak orang lewat n bakal ngeliatin tingkah anehku. In the end, karena makin banyak orang heran ngeliatin aku yang selonjoran sambil senyum-senyum, masuklah aku ke kamar, hahahaha, masih dengan senyum kok.

Masuk kamar, aku ga langsung berniat mandi. Mindahin perangkat audio-ku, dari headphone ke mini speaker,  dengan playlist-ku yang isinya bukan lagu bahagia semua, tapi bisa kunyanyiin dengan senyum, ga sinkron emang. Aku bahkan bisa menari dengan lagu selow yang harusnya ga pantes buat ditariin.

Apakah aku mimpi indah banget semalem? I don’t even remember what time was I left my conciousness. I wasn’t in love nor feeling the butterfly flying in my stomach. But I am happy as a beggar who just won a million dollars lottery.

Soooooo…aku putusin ambil laptop, dan ngetik moment ini. Berharap orang lain bisa merasakan kebahagiaan tanpa syarat. Because happiness comes from inside ourselves.

Smile, and the world will smile together with you, cause smiling is contagious…

 

PS, ada masa-masa di mana emosi panasku mendominasi (apalagi kalo pas laper), dan itu rasanya ga enak banget, hampir selalu ditutup dengan penyesalan. I am on my way to overcome my negativity, wish me luck!! Jadi buat yang merasa temperamen atau gampang sedih, jangan putus asa. Pelan-pelan aja, tiap kali mau marah atau sedih, just remember how beautiful life is when we can enjoy it, from any point of view, then give your brightest smile to any condition….

Pontianak – Sosok: bring your Lambo!!

Alkisah, tersebutlah program referal bagi residen tahap mandiri. Program referal adalah suatu program yang mengondisikan residen tahap mandiri menjadi seorang dokter ahli di RS yang membutuhkan, biasanya sih di luar jawa. Dan aku mendapat giliran di Kalimantan Barat, tepatnya di RSU Parindu.

Sudah beberapa kali aku menginjakkan kaki di tanah Borneo ini, tapi aku tidak tinggal dalam waktu yang lama, melainkan beberapa hari aja. Pangkalanbun, Banjarbaru, Martapura, dan Bangkalan pernah menjadi tempatku singgah. Dan memang, aku hanya tur dari RS satu ke RS lain untuk menjadi asisten instruktur pelatihan yang diadakan oleh departemen tempatku belajar.

Oke, kembali ke Kalimantan Barat. Pertama kali aku turun di Bandara Supadio, ga jauh beda dengan bandara-bandara lain yang pernah aku kunjungi. Beda cerita pas sudah keluar dari bandara. Panasnya Borneo memang top. Garis khatulistiwa sepertinya berperan besar dalam terciptanya suasana ini. Aku dijemput oleh seorang driver dari RS, sebut saja Pak L. Beliau dengan sangat ramah menyambutku dan menawarkan bantuan mengangkat carrier dari punggungku, yang tentu saja kutolak dengan halus karena carrier 60L ini sudah tinggal beberapa langkah dari bagasi mobil, hahahaha…

DSC_0546

selfie dulu di bandara, biar kekinian

Aku mengajak Pak L mengobrol sepanjang jalan. Terungakplah bahwa beliau berasal dari Boyolali, Jawa Tengah. Ah, lagi-lagi aku bertemu suku Jawa di tanah Kalimantan ini. Beliau bercerita bahwa sudah 34 tahun beliau menetap di Parindu, sebagai ambulance driver RSU Parindu. Dengan wajah sumringah tanpa terlihat lelah Pak L bercerita tentang jalan raya yang saat ini kami lewati. Betapa dulu jalan itu hancur rusak dan hampir tidak mungkin dilewati, hingga akhirnya terbentuk halus-mulus baru-baru ini. Bagi penyuka mobil sport, mungkin bisa menikmati kemampuan sejati mobilnya di jalanan ini; mulus, sepi, kebut-able.

DSC_0547

kecepatannya Pak L sekitar 120 km/jam, ga berani motret speedometer

Perjalanan bersama Pak L sungguh tak terasa, selain jalan yang aku lalui itu cukup bisa dinikmati, Pak L juga sangat mahir dalam menceritakan pengalamannya selama 34 tahun hidup di Kalimantan hingga akhirnya menikah dengan seorang wanita bersuku asli Borneo; Dayak.

FYI, Dayak bukan nama suku penduduk pribumi Borneo, itu justru sebutan saja. Suku asli Kalimantan ini banyaaaaaaakkkk…mungkin bakal aku tulis di kisah selanjutnya (kalo sempet n masih inget).

Hari mulai gelap. Aku memikirkan Pak L yang sejak tadi mengendarai kereta tanpa makanan dan minuman. Ga tau gimana, aku emang tipe orang yang tidak mudah merasa haus dan lapar (sampai partner perjalananku sebelumnya gemes). Meski perut ini tidak protes sama sekali, hati dan otakku justru protes karena keselamatanku terancam dengan driver yang –mungkin- kelaparan. Aku meminta Pak L mencari tempat makan yang layak, dan berhentilah kami di sebuah rumah makan padang, entah apa namanya, aku lupa.

Aku dan Pak L mengambil makanan dan kemudian duduk, karena statusku yang vegetarian, maka hanya nasi dan emping lah laukku di rumah makan padang. Oia, pake sambel ijo, hahahaha. Begitu sampai di kasir aku kaget bukan kepalang, tahigan makanan sangat minimalis kami mencapai 65 ribu rupiah. Omaijot. Pak L hanya makan nasi dengan lauk ayam goreng, sayur ubi, dan sambal, aku hanya makan nasi, emping, dan sambal. Minum kami pun hanya teh hangat 2 gelas. Tapi aku berpikir positip, ini Kalimantan, mungkin memang harga di sini sedemikian tinggi. Tapi kebaik-sangkaanku terbantah. Pak L yang ternyata melihatku membayar dari kejauhan curiga atas harga yang harus aku bayar. Beliau bilang: Dokter tampak sekali seperti orang asing, jadi mereka kira Dokter berwisata. Aih, penampilanku apalah ini. Celana joger motif army, kaos dan jilbab abu-abu terang, dengan sendal gunung dan tas ransel. Bilapun kayak wisatawan, aku ini tampang wisatawan di bawah garis kemiskinan…alamaaaaakkk….

Yasudah, kita tiggalkan rumah makan padang yang sama sekali tidak bersahabat itu. Kami melanjutkan perjalanan. Karena sudah malam dan tidak ada samasekali penerangan jalan, maka aku tidak bisa lagi menikmati indahnya jalan yang kulewati. Pak L bilang sih sudah dekat, tapi menurutku perjalanan ini menjadi lebih lama.

DSC_0549

menjelang senja, dan ini jalan ga ada lampunya

Akhirnya Pak L menepi. Beliau menunjukkan sebuah ruko yang cantik, dan menyebutnya sebagai “mes Dokter”, dan aku pun langsung paham bahwa itu adalah tempat yang akan menjadi “rumah” buatku selama sebulan ke depan. Sampai di dalam aku disambut oleh 2 orang kawan, keduanya perempuan, keduanya meriah, tidak seperti aku yang pendiam (yakeleeeeeus). Oke, hari itu petualanganku di tanah Borneo dimulai. Eh, tidur dulu ding. Maka, keesokan harinya petualanganku di tanah Borneo dimulai….

Kisah di OK IGD

Sekali-kali cerita kehidupan di rumah sakit lah ya…

Alkisah aku sebenernya adalah seorang residen anestesi. Aku ingetin aja, kalik ada yang lupa kalo aku residen, hahahaha…

Q: Apa itu residen??

A: Residen itu penjaga Rumah Sakit, ada masing-masing divisi. Nah tugasku adalah njagain kamar operasi (biasanya kami sebut OK), terutama OK IGD….biar ga ilang…

Itu contoh jawaban yang salah saudara-saudara…pahamilah kalo yang nulis emang kadang rada ngaco…

Residen adalah seorang dokter umum yang sedang menjalani tahap kehidupan sekolah berkelanjutan untuk mendapatkan gelar klinisi sebagai seorang dokter spesialis. Aku salah satu dari sekian ratus (atau ribu) residen di Yogyakarta, dan spesialisasi yang aku ambil adalah….udah ketebak, udah disebut di awal tadi…jadi ga seru ah…

Oke, mari kita mulai…

OK IGD adalah kamar operasi untuk tindakan kegawatan. Yang gawat bisa siapa saja; pasien nya, residennya, atau kadang konsulennya. Pasien gawat bila nyawanya terancam atau kondisinya mengarah ke kecacatan permanen bila tidak segera mendapatkan tindakan. Residennya gawat apabila kehidupan sekolahnya terancam secara temporer maupun permanen. Kegawatan konsulen adalah…ah, sudahlah jangan menyebabkan kegawatan lain muncul…

OK IGD tidak selalu ramai penuh darah dan air mata. Kadang malah bisa sepi sesepi kuburan karena seharian tidak ada tindakan. Konon kejadian ini tergantung dari formasi jaga. Ada orang-orang haus skill dan berbakat membawa pasien dengan jumlah signifikan, ada orang-orang haus ilmu yang entah gimana pasiennya selalu datang dengan kondisi ekstrim, ada orang yang kalo jaga bisa bikin OK nya setenang sekolahan pas lagi ujian nasional. Jangan dibahas aku yang mana, sudahlah…

Ada banyak pemegang pisau yang kerap mengintai kondisi OK IGD. Pertarungan memperebutkan antrian tak ayal bagai rebutan nasi berkah waktu kirab pusaka; sengit! Tapi bagaimanapun klan anestesi akan menentukan prioritas berdasarkan kegawatan. Kalo pasien pengantri itu tidak ada yang benar-benar gawat, kami akan mengurutkan sesuai urutan daftar.

Pada suatu hari di saat aku menjadi komandan OK IGD yang berbahagia, tersebutlah banyak antrian operasi yang semuanya tidak terlalu gawat dari berbagai bagian; mata, orthopedi, bedah digesti, bedah anak. Perwakilan dari masing-masing bagian sudah standby di nurse station OK IGD untuk memastikan antriannya tidak ditikung bagian lain (kan dibilang tadi, perebutan antrian itu sengit, bung!). Aku dan anggota tim bekerja selayaknya residen normal, cukup cepat untuk memastikan semua operasi itu terlaksana, cukup lambat untuk meyakinkan persiapan kami tanpa celah.

Kamar operasi yang tersedia ada 3, tapi perlengkapan yang dimiliki OK IGD hanya layak menangani 2 pasien dalam sekali waktu. Dua operasi berjalan, mata dan orthopaedi. Operasi mata sudah hampir selesai, bedah anak dan bedah digesti menanti dengan penuh kesabaran dan pengharapan.

Namun dengan sangat tiba-tiba, muncullah seorang dari kegelapan yang sudah kami kenal. Dia datang dengan dengan setengah berlari dan berkata lantang…“Mba, SC cito, fetal distress”, dan semua yang ada di dalam ruangan itu terbelalak seakan tak percaya….aku yakin bagian perinatologi di gedung sana juga terbelalak, cuma ga keliatan dari OK IGD.

Antrian porak-poranda, raut kesedihan tidak bisa disembunyikan dari residen bedah anak dan bedah digesti itu. Fetal distress adalah kondisi kegawatan janin yang membutuhkan operasi sesar segera, ini merupakan salah satu kegawatan yang tidak bisa ditolak. Sontak pasien hamil itu masuk ke kamar operasi setelah melalu prosedur administrasi super cepat. Aku bersyukur residen pengantri itu merupakan orang-orang yang kualitas otaknya bagus dan emosinya cukup stabil, sehingga aku tidak perlu banyak menjelaskan kenapa “fetal distress” bisa merusak tatanan hidup berbangsa dan bernegara di kerajaan OK IGD kita tercinta.

SC fetal distress on going, orthopedi  hampir selesai…dan bunyilah telepon genggamku dengan lantang. Suara di ujung sana ternyata dari seorang komandan ruang resusitasi (yang juga klan anestesi yang berbahagia, seniorku lebih tepatnya). Beliau dengan tegas bicara “siapkan OK, internal bleeding mau naik”, dilanjutkan dengan operan maha dahsyat mengenai persiapan apa saja yang sudah dilakukan di bawah. Kabar emejing ini pun aku sampaikan ke 2 orang pengantri setia tadi. Muka mereka yang tadinya berseri-seri langsung menjadi muram durja.

Operasi penuh darah, peluh, air mata, dan adrenalin tentunya tidak bisa aku tandem dengan operasi lain. Belum selesai pula kami terngesot-ngesot dengan pasien internal bleeding, terbanglah lembar konsul lain dari rekan bedah saraf. Hahahahaha, aku sih ketawa aja deh ya, hayati pasraaaaahhh….

Dua teman dari bedah anak dan bedah digesti ini termasuk orang-orang yang luar biasa. Meski mukanya asem kaya bau ketek belom mandi 4 hari, tapi ucapannya membuat suasana kondusif tetap terjaga. Mereka berdua sudah mengibarkan bendera antrian sejak pukul 10 pagi, dan ternyata sampai aku operan jaga (sekitar pukul 19.00) operasi mereka pun belum dimulai. Yah apa mau dikata, nasib sudah menggariskan arah perjalanannya.

Akhirnya proses pengamanan OK IGD hari itu oleh Nira n d’tim selesai juga. Alhamdulillah, OK IGD nya dengan sukses tetap terjaga, ga ilang, tetep di situ-situ aja. Operan pun aku sampaikan dengan tawa gembira penuh luka, hanya 4 operasi yang bisa dijalankan oleh tim ku. Masih tersisa 2 operasi dari sejawat super sabar yang masih berjaga-jaga dari tikungan tajam bagian lainnya.

Moment to Remember

Tulisan ini dibuat setelah ngebius pasien dengan penuh aura darah merah membara…dengan Hb yang tinggal 2, mirip gigi nenek yang sudah tua…mohon maaf kalau ada pihak-pihak yang ngerasa jadi subjek, mungkin ini emang tercipta berkat kalian….

*****

Liat koleksi foto…see the old me…see the old us… Seeing how life can be so complicated now. How easy for me to start a chat and say “let’s go” or “lagi ngapain” or  “I miss you” at that time.

Hampir semua foto (yang aku punya) hanya ngerekam momen bahagia. Dan aku bersyukur atas hal itu, karena aku ga perlu ingat gimana awal mula rasa canggung itu muncul. Aku hanya melihat kita yang tertawa.

Orang datang dan pergi, dan mungkin emang ini yang harus kita jalani. I am thanking God for it, for allowing me to meet you all. And now I’ve found other people to laugh with. Ga akan pernah sama dengan yang dulu, dan orang-orang yang sekarang pun kelak akan menjadi masa lalu. Tapi seperti foto2 yang aku liat sekarang, mereka akan menyisakan potongan kenangan yang memberikan pelajaran.

Jangan kebanyakan protes “si dia sekarang kok gini ya”, “si anu sekarang kok gitu ya”…inilah hidup, perubahan itu keniscayaan. Mereka berubah, dan berkacalah bahwa itu pun terjadi pada diri kita. Prioritas akan membawa kita pada titik pijakan saat ini. Jadi, misal ada temen yang sekarang jadi susah diajak ngobrol atau ketemuan, ya pahamilah bahwa dia juga sedang mengejar apa yang menjadi prioritasnya. Dan secara tidak sadar kita juga menjadi subjek “perubahan” dari sudut pandang orang lain.

Nikmati saat ini, kita ga akan pernah tau kapan momen2 itu hilang dan berganti. Aku emang enjoy saat di mana aku nengok ke belakang sesekali dan ngebayangin kejadian masa lalu, tapi ya ga lama-lama, apalagi sampe terjebak dalam nostalgia.

Bukan melupakan, bukan meninggalkan persahabatan. Tapi terus melangkah dan tetap tersenyum. Menghargai mereka yang datang dan menghormati mereka yang pergi. Mengambil hikmah yang indah dari semua yang terlewati. Dan ketika suatu saat kita berhadapan lagi, mungkin ga akan tercipta obrolan seru seperti dulu, mungkin rasa canggung itu akan mendominasi. Selama pandangan mata kita masih bisa bertemu dan saling melempar sapa serta senyuman, saat itulah kita dapat menghargai arti dari kenangan.

Antara Tuhan dan Aku

Cinta itu bernama Tuhan

Yang memelukku melalui banyak perantara ketika kekhawatiran datang

Cinta itu bernama Tuhan

Yang tidak pernah beranjak sekalipun langkah kakiku berlawanan

Cinta itu bernama Tuhan

Yang menunjukkan kasihNya dengan cara yang paling sakit sekaligus paling menawan

Cinta itu bernama Tuhan

Yang sudah berapa banyak perintahNya yang aku tanggalkan

Cinta itu bernama Tuhan

Yang sifat pemaafNya tak pernah berkurang sekalipun aku terus membangkang

Cinta itu bernama Tuhan

Yang tidak sekalipun tetesan air mataku Dia abaikan

Cinta itu bernama Tuhan

Yang kitab suci dariNya tak pernah salah dalam memberikan peringatan

 

Picik itu bernama manusia

Terus mendahulukan kepentingannya kemudian berlindung pada istilah “mekanisme pertahanan jiwa”

Picik itu bernama manusia

Begitu mudahnya melihat kesalahan orang lain namun kesulitan melihat kesalahannya

Picik itu bernama manusia

Tak tau cara berterima kasih, hanya bisa terus mengeluh dan meminta

Picik itu bernama manusia

Mendekatkan diri pada penguasa dan menginjak yang rekasa

Picik itu bernama manusia

Hanya menangis dan berdoa pada penciptaNya ketika musibah sudah tampak nyata

Picik itu bernama manusia

Yang mudah terlena bila dunia sudah kembali memeluknya

Picik itu bernama manusia

Tidak pernah belajar dari teguran yang datang menyapa

 

Cinta itu bernama Tuhan…

Dan picik itu bernama Aku…

Merapi -sepertinya- Tak Pernah Ingkar Janji

 

Di sini aku mulai dengan dua orang sahabat yang suka mendaki. Berpikiran sederhana, tidak membuat suatu hal jadi rumit, itu yang aku suka dari mereka. Sebut saja mereka “AB”.

IMG-20161029-WA0044

kedua oknum AB sedang sesi pemotretan

PicsArt_03-22-01.22.22

peserta berguguran…

 

 

Kisah ini terjadi kira-kira pada bulan Oktober tahun 2016. Pada suatu ketika di sebuah grup WA, tercetuslah rencana melakukan perjalanan tadabur alam semacem camping yang ringan dan cantik. Semula peminatnya cukup banyak, tapi seperti rencana pada umumnya, peminat berguguran di menit-menit akhir. Akhirnya tinggallah 3 orang peminat yang tersisa; AB dan aku.

 

 

PicsArt_03-22-01.24.02

Entah apa yang AB bicarakan di luar grup WA itu, aku hanya mempersiapkan diri untuk sebuah perjalanan ringan. Waktu keberangkatan ditentukan, and my bag was packed. Kemudian telepon berdering…suara di ujung sana mengonfirmasi kesiapan mereka untuk berangkat dan penentuan meeting point. Sebelum menutup telepon ada sebuah pertanyaan “Fisik?”, dan aku pun menjawab “Great, as always”. Dan tetiba ada announcement di grup bahwa “Jadinya Merapi, siapkan perlengkapan tempur”. Hahahahaha, mereka berhasil bikin aku ndoplong!! Kagetku ga lama, segera aku sadar kalo yang mereka rencanakan itu serius, dan langsung ambil langkah buat preparasi.

Tas dibongkar, perlengkapan tempur disusun ulang. Tas ransel daypack berubah jadi carrier dengan isi lengkap. Baju biasa and celana jeans ganti jadi kaos dan celana kebangsaan buat naik. Sendal jepit ganti sendal gunung favorit. Semua disiapkan dalam waktu 15 menit.

Ketemu di meeting point, kami berangkat menuju Selo. Ngikik aku pas liat salah satu personil AB pake celana sepakbola, kaos jersey sepedahan, tapi dengan sepatu trekking nya. Perpaduan yang luar biasaaaaa….aneh!! Tapi ya karena AB itu berpikiran sederhana, yang penting “marwah”nya…

IMG-20161029-WA0025

the basecamp…tepat sebelum memulai…

Sampailah kami di basecamp Barameru, tempat pendakian Merapi dimulai. Kelar mendata diri, kami memulai perjalanan perlahan. Target: sebisanya, sesampainya. Awal perjalanan tidak terlalu berat, jalan berlapis semen, menanjak, beberapa belokan…kemudian muncullah semacam hutan dengan jalanan cukup terjal… Setelah melalui perjalanan yang (kami rasa) cukup panjang, kurang lebih 2 jam, tampak sebuah persinggahan, dan ternoktahkan “pos 1” di sebuah papan. Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Kami putuskan membuka tenda dan beristirahat, dengan niat akan memulai perjalanan kami lagi di pagi hari, sesuai target kami di awal: sebisanya, sesampainya.

 

IMG-20161029-WA0018

Tendanya di tengah jalan, hahahaha…

 

Pagi menjelang, baru kami sadar kalo tenda kami berdiri di tengah jalan yang dilalui pada pendaki lain. Banyak langkah kaki bergerudukan di pagi hari sambil berucap “permisiiiii”, yang akhirnya membuat mata kami terbuka lebar dan sadar diri untuk ikut melanjutkan perjalanan.

 

 

PicsArt_10-29-06.52.23

Hari yang cerah dan membahagiakan… kami melangkahkan kaki dengan suka cita, berbekal 1 tas kecil saja dan meninggalkan semua beban berat di tenda. Tenda dipastikan tertutup rapat sebelum kami pergi, karena memang di pos 1-2 dikenal banyak monyet “penasaran” yang mengajak bercanda para pendaki dengan “merapikan” interior tenda. Bukan bukit berbunga yang dilewati, karena merapi merupakan gunung berapi paling aktif di dunia. Perjalanan dari pos 1 ke pos 2 adalah yang terberat kedua menurut versiku (yang paling berat akan dideskripsikan di paragraf selanjutnya). Batu dan kerikil terjal menghiasi perjalanan kami, dan pastinya membentuk inklinasi naik yang akan menuntun ke tempat yang lebih tinggi. Beberapa kali kami ketemu pendaki lain dan saling menyapa. Lumayan, hiburan kan kalo tau kita ga ngesot-ngepot sendirian, hahahaha…

 

IMG-20161029-WA0034

tulisannya begitu…

Daaaaaannnn…setelah berjalan kurang lebih 2.5 jam, kami tiba di pasar bubrah. Tertulis di sana bahwa tempat itu adalah batas aman pendakian. Tapi pasar bubrah bukanlah puncak yang kami tau. Kami mengenal istilah “Puncak Garuda”, yang telah hilang akibat erupsi sebelumnya, dan berganti menjadi “Puncak Limas” sekarang.

Kami duduk untuk rehat dan melihat sekitar. Ternyata banyak pendaki yang memutuskan membuka tendanya di lokasi itu. Tak puas dengan tanda larangan dan melihat keberhasilan pendaki lain kembali dari atas sana, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak, setelah sebelumnya makan cemilan dan minum susu sebagai sumber energi.

 

0

“PASAR BUBRAH”, pos pendakian terakhir Merapi…

 

Kalo boleh jujur, hampir sepanjang perjalanan muncak dengan inklinasi 45-60o itu aku lalui dengan setengah merangkak. Cukup berbeda dengan 2 temanku yang –sepertinya- cukup lancar melangkahkan kaki. Medan inilah yang paling berat menurut nersi “ondesepot”. Pasir, kerikil, dan juga batu…sangat mudah membuat sandal gunungku slip sepanjang waktu. Lelah, rasanya ingin menyerah saja dan kembali turun. Tapi aku berada di antara 2 orang yang pantang mundur. Mereka menatap puncak dengan penuh keyakinan, dan keyakinan mereka menular padaku, jadi tetep semangat juga meski kepleset ratusan kali. Kadang terbayang gimana nasib badan ini kalo kepleset dan ngglindhing jatoh ke bawah. Tapi segera kusingkirkan jauh-jauh pikiran negatif itu, sambil mencari pijakan menuju puncak. Oknum AB1 “membuka rute” di depan, dan oknum AB2 mengikutiku dari belakang. Pendaki amatir sepertiku cukup merasa tenang hanya sekedar yakin kalo jalannya ga nyasar karena diapit 2 orang “profesional”, hahahaha…

IMG-20161029-WA0036

Maaakkk….anakmu yang unyu2 sampe puncak Merapi, Maaakkk…

 

Dan sampailah kami di Puncak Limas, dengan waktu tempuh kurang lebih 1.5 jam dari Pasar Bubrah. Ya, kami di Puncak Limas. Ya, kami yang hanya memasang target sebisanya dan sesampainya ini sampai di Puncak Merapi. Alhamdulillaaaaahhhh….puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa… dengan rahmat dan karunia-Nya… penjajahan di atas dunia harus dihapuskaaaaannn…

(maap mulai ngaco)

 

 

 

IMG-20161029-WA0039

merayakan sampe di puncak dengan makan apel dan minum syusyu…

 

IMG-20161029-WA0041

perosotan bangke pas turun, hahahaha…

Setelah puas makan apel, minum susu, dan poto-poto di puncak Limas, kami berniat kembali turun. Iya, turun, karena kami harus pulang ke Jogja hari itu juga, demi tugas negara yang sudah menjadi tanggung jawab kami di sana. Waktu turun lebih cepat dibandingkan waktu nanjak, kami makan waktu sekitar setengah jam untuk sampai kembali ke Pasar Bubrah. Yaiyalah secara hampir semacem main perosotan…tapi perosotan kerikil yang bikin celana sobek dan pantat lecet. Dan apesnya adalah waktu main perosotan itu kakiku keseleo. Awalnya memang tidak terlalu terasa, tapi makin lama makin membara. Cidhuuuuuuk!!! Masih ada jalan jauh yang harus dilewatin dan itu kaki ngehek semena-mena…

Sampai di tenda kami di pos 1, diputuskan untuk istirahat dulu. Selain karena sedang gerimis di luar sana, tenaga kami juga perlu dipulihkan. Saat germis reda kami melanjutkan perjalanan pulang. Yah, mau kaki sengehek apa juga tetep kudu turun kan. Karena jalan pulang sekarang sudah lebih kukenali (dan ini masih siang hari), aku mengikhlaskan AB meluncur duluan, dan aku memilih “alon-alon waton kelakon” sebagai tema perjalanan turun.

Setelah sekian waktu, jalanan setapak dengan semen sudah mulai tampak, tanda tujuanku sudah semakin dekat. Aku berusaha mempercepat langkah tapi sepertinya percuma karena kaki ini makin meronta. Yasudah yang penting bergerak, mau dengan kecepatan siput juga gak apa.

Daaaaaannn….touch down!! Kembali di basecamp Barameru!!! Senaaaaaang…karena kaki ini bisa diistirahatkan. Kecepatan perjalanan turunku gak bisa dijadikan patokan yes, mengingat prinsip “alon-alon waton kelakon” akibat perngehekan tadi. Setelah rehat seperlunya, kami bertolak pulang ke Jogja…kembali ke aktivitas sebagai mahasiswa. Selama perjalanan pulang itu, aku berpikir keras…sepertinya harus beli sendal atau sepatu gunung baru…karena ternyata sol sendal gunungku udah habis-tipis digerus pasir dan kerikil merapi…