Pontianak – Sosok: bring your Lambo!!

Alkisah, tersebutlah program referal bagi residen tahap mandiri. Program referal adalah suatu program yang mengondisikan residen tahap mandiri menjadi seorang dokter ahli di RS yang membutuhkan, biasanya sih di luar jawa. Dan aku mendapat giliran di Kalimantan Barat, tepatnya di RSU Parindu.

Sudah beberapa kali aku menginjakkan kaki di tanah Borneo ini, tapi aku tidak tinggal dalam waktu yang lama, melainkan beberapa hari aja. Pangkalanbun, Banjarbaru, Martapura, dan Bangkalan pernah menjadi tempatku singgah. Dan memang, aku hanya tur dari RS satu ke RS lain untuk menjadi asisten instruktur pelatihan yang diadakan oleh departemen tempatku belajar.

Oke, kembali ke Kalimantan Barat. Pertama kali aku turun di Bandara Supadio, ga jauh beda dengan bandara-bandara lain yang pernah aku kunjungi. Beda cerita pas sudah keluar dari bandara. Panasnya Borneo memang top. Garis khatulistiwa sepertinya berperan besar dalam terciptanya suasana ini. Aku dijemput oleh seorang driver dari RS, sebut saja Pak L. Beliau dengan sangat ramah menyambutku dan menawarkan bantuan mengangkat carrier dari punggungku, yang tentu saja kutolak dengan halus karena carrier 60L ini sudah tinggal beberapa langkah dari bagasi mobil, hahahaha…

DSC_0546

selfie dulu di bandara, biar kekinian

Aku mengajak Pak L mengobrol sepanjang jalan. Terungakplah bahwa beliau berasal dari Boyolali, Jawa Tengah. Ah, lagi-lagi aku bertemu suku Jawa di tanah Kalimantan ini. Beliau bercerita bahwa sudah 34 tahun beliau menetap di Parindu, sebagai ambulance driver RSU Parindu. Dengan wajah sumringah tanpa terlihat lelah Pak L bercerita tentang jalan raya yang saat ini kami lewati. Betapa dulu jalan itu hancur rusak dan hampir tidak mungkin dilewati, hingga akhirnya terbentuk halus-mulus baru-baru ini. Bagi penyuka mobil sport, mungkin bisa menikmati kemampuan sejati mobilnya di jalanan ini; mulus, sepi, kebut-able.

DSC_0547

kecepatannya Pak L sekitar 120 km/jam, ga berani motret speedometer

Perjalanan bersama Pak L sungguh tak terasa, selain jalan yang aku lalui itu cukup bisa dinikmati, Pak L juga sangat mahir dalam menceritakan pengalamannya selama 34 tahun hidup di Kalimantan hingga akhirnya menikah dengan seorang wanita bersuku asli Borneo; Dayak.

FYI, Dayak bukan nama suku penduduk pribumi Borneo, itu justru sebutan saja. Suku asli Kalimantan ini banyaaaaaaakkkk…mungkin bakal aku tulis di kisah selanjutnya (kalo sempet n masih inget).

Hari mulai gelap. Aku memikirkan Pak L yang sejak tadi mengendarai kereta tanpa makanan dan minuman. Ga tau gimana, aku emang tipe orang yang tidak mudah merasa haus dan lapar (sampai partner perjalananku sebelumnya gemes). Meski perut ini tidak protes sama sekali, hati dan otakku justru protes karena keselamatanku terancam dengan driver yang –mungkin- kelaparan. Aku meminta Pak L mencari tempat makan yang layak, dan berhentilah kami di sebuah rumah makan padang, entah apa namanya, aku lupa.

Aku dan Pak L mengambil makanan dan kemudian duduk, karena statusku yang vegetarian, maka hanya nasi dan emping lah laukku di rumah makan padang. Oia, pake sambel ijo, hahahaha. Begitu sampai di kasir aku kaget bukan kepalang, tahigan makanan sangat minimalis kami mencapai 65 ribu rupiah. Omaijot. Pak L hanya makan nasi dengan lauk ayam goreng, sayur ubi, dan sambal, aku hanya makan nasi, emping, dan sambal. Minum kami pun hanya teh hangat 2 gelas. Tapi aku berpikir positip, ini Kalimantan, mungkin memang harga di sini sedemikian tinggi. Tapi kebaik-sangkaanku terbantah. Pak L yang ternyata melihatku membayar dari kejauhan curiga atas harga yang harus aku bayar. Beliau bilang: Dokter tampak sekali seperti orang asing, jadi mereka kira Dokter berwisata. Aih, penampilanku apalah ini. Celana joger motif army, kaos dan jilbab abu-abu terang, dengan sendal gunung dan tas ransel. Bilapun kayak wisatawan, aku ini tampang wisatawan di bawah garis kemiskinan…alamaaaaakkk….

Yasudah, kita tiggalkan rumah makan padang yang sama sekali tidak bersahabat itu. Kami melanjutkan perjalanan. Karena sudah malam dan tidak ada samasekali penerangan jalan, maka aku tidak bisa lagi menikmati indahnya jalan yang kulewati. Pak L bilang sih sudah dekat, tapi menurutku perjalanan ini menjadi lebih lama.

DSC_0549

menjelang senja, dan ini jalan ga ada lampunya

Akhirnya Pak L menepi. Beliau menunjukkan sebuah ruko yang cantik, dan menyebutnya sebagai “mes Dokter”, dan aku pun langsung paham bahwa itu adalah tempat yang akan menjadi “rumah” buatku selama sebulan ke depan. Sampai di dalam aku disambut oleh 2 orang kawan, keduanya perempuan, keduanya meriah, tidak seperti aku yang pendiam (yakeleeeeeus). Oke, hari itu petualanganku di tanah Borneo dimulai. Eh, tidur dulu ding. Maka, keesokan harinya petualanganku di tanah Borneo dimulai….

Advertisements

Kisah di OK IGD

Sekali-kali cerita kehidupan di rumah sakit lah ya…

Alkisah aku sebenernya adalah seorang residen anestesi. Aku ingetin aja, kalik ada yang lupa kalo aku residen, hahahaha…

Q: Apa itu residen??

A: Residen itu penjaga Rumah Sakit, ada masing-masing divisi. Nah tugasku adalah njagain kamar operasi (biasanya kami sebut OK), terutama OK IGD….biar ga ilang…

Itu contoh jawaban yang salah saudara-saudara…pahamilah kalo yang nulis emang kadang rada ngaco…

Residen adalah seorang dokter umum yang sedang menjalani tahap kehidupan sekolah berkelanjutan untuk mendapatkan gelar klinisi sebagai seorang dokter spesialis. Aku salah satu dari sekian ratus (atau ribu) residen di Yogyakarta, dan spesialisasi yang aku ambil adalah….udah ketebak, udah disebut di awal tadi…jadi ga seru ah…

Oke, mari kita mulai…

OK IGD adalah kamar operasi untuk tindakan kegawatan. Yang gawat bisa siapa saja; pasien nya, residennya, atau kadang konsulennya. Pasien gawat bila nyawanya terancam atau kondisinya mengarah ke kecacatan permanen bila tidak segera mendapatkan tindakan. Residennya gawat apabila kehidupan sekolahnya terancam secara temporer maupun permanen. Kegawatan konsulen adalah…ah, sudahlah jangan menyebabkan kegawatan lain muncul…

OK IGD tidak selalu ramai penuh darah dan air mata. Kadang malah bisa sepi sesepi kuburan karena seharian tidak ada tindakan. Konon kejadian ini tergantung dari formasi jaga. Ada orang-orang haus skill dan berbakat membawa pasien dengan jumlah signifikan, ada orang-orang haus ilmu yang entah gimana pasiennya selalu datang dengan kondisi ekstrim, ada orang yang kalo jaga bisa bikin OK nya setenang sekolahan pas lagi ujian nasional. Jangan dibahas aku yang mana, sudahlah…

Ada banyak pemegang pisau yang kerap mengintai kondisi OK IGD. Pertarungan memperebutkan antrian tak ayal bagai rebutan nasi berkah waktu kirab pusaka; sengit! Tapi bagaimanapun klan anestesi akan menentukan prioritas berdasarkan kegawatan. Kalo pasien pengantri itu tidak ada yang benar-benar gawat, kami akan mengurutkan sesuai urutan daftar.

Pada suatu hari di saat aku menjadi komandan OK IGD yang berbahagia, tersebutlah banyak antrian operasi yang semuanya tidak terlalu gawat dari berbagai bagian; mata, orthopedi, bedah digesti, bedah anak. Perwakilan dari masing-masing bagian sudah standby di nurse station OK IGD untuk memastikan antriannya tidak ditikung bagian lain (kan dibilang tadi, perebutan antrian itu sengit, bung!). Aku dan anggota tim bekerja selayaknya residen normal, cukup cepat untuk memastikan semua operasi itu terlaksana, cukup lambat untuk meyakinkan persiapan kami tanpa celah.

Kamar operasi yang tersedia ada 3, tapi perlengkapan yang dimiliki OK IGD hanya layak menangani 2 pasien dalam sekali waktu. Dua operasi berjalan, mata dan orthopaedi. Operasi mata sudah hampir selesai, bedah anak dan bedah digesti menanti dengan penuh kesabaran dan pengharapan.

Namun dengan sangat tiba-tiba, muncullah seorang dari kegelapan yang sudah kami kenal. Dia datang dengan dengan setengah berlari dan berkata lantang…“Mba, SC cito, fetal distress”, dan semua yang ada di dalam ruangan itu terbelalak seakan tak percaya….aku yakin bagian perinatologi di gedung sana juga terbelalak, cuma ga keliatan dari OK IGD.

Antrian porak-poranda, raut kesedihan tidak bisa disembunyikan dari residen bedah anak dan bedah digesti itu. Fetal distress adalah kondisi kegawatan janin yang membutuhkan operasi sesar segera, ini merupakan salah satu kegawatan yang tidak bisa ditolak. Sontak pasien hamil itu masuk ke kamar operasi setelah melalu prosedur administrasi super cepat. Aku bersyukur residen pengantri itu merupakan orang-orang yang kualitas otaknya bagus dan emosinya cukup stabil, sehingga aku tidak perlu banyak menjelaskan kenapa “fetal distress” bisa merusak tatanan hidup berbangsa dan bernegara di kerajaan OK IGD kita tercinta.

SC fetal distress on going, orthopedi  hampir selesai…dan bunyilah telepon genggamku dengan lantang. Suara di ujung sana ternyata dari seorang komandan ruang resusitasi (yang juga klan anestesi yang berbahagia, seniorku lebih tepatnya). Beliau dengan tegas bicara “siapkan OK, internal bleeding mau naik”, dilanjutkan dengan operan maha dahsyat mengenai persiapan apa saja yang sudah dilakukan di bawah. Kabar emejing ini pun aku sampaikan ke 2 orang pengantri setia tadi. Muka mereka yang tadinya berseri-seri langsung menjadi muram durja.

Operasi penuh darah, peluh, air mata, dan adrenalin tentunya tidak bisa aku tandem dengan operasi lain. Belum selesai pula kami terngesot-ngesot dengan pasien internal bleeding, terbanglah lembar konsul lain dari rekan bedah saraf. Hahahahaha, aku sih ketawa aja deh ya, hayati pasraaaaahhh….

Dua teman dari bedah anak dan bedah digesti ini termasuk orang-orang yang luar biasa. Meski mukanya asem kaya bau ketek belom mandi 4 hari, tapi ucapannya membuat suasana kondusif tetap terjaga. Mereka berdua sudah mengibarkan bendera antrian sejak pukul 10 pagi, dan ternyata sampai aku operan jaga (sekitar pukul 19.00) operasi mereka pun belum dimulai. Yah apa mau dikata, nasib sudah menggariskan arah perjalanannya.

Akhirnya proses pengamanan OK IGD hari itu oleh Nira n d’tim selesai juga. Alhamdulillah, OK IGD nya dengan sukses tetap terjaga, ga ilang, tetep di situ-situ aja. Operan pun aku sampaikan dengan tawa gembira penuh luka, hanya 4 operasi yang bisa dijalankan oleh tim ku. Masih tersisa 2 operasi dari sejawat super sabar yang masih berjaga-jaga dari tikungan tajam bagian lainnya.

Moment to Remember

Tulisan ini dibuat setelah ngebius pasien dengan penuh aura darah merah membara…dengan Hb yang tinggal 2, mirip gigi nenek yang sudah tua…mohon maaf kalau ada pihak-pihak yang ngerasa jadi subjek, mungkin ini emang tercipta berkat kalian….

*****

Liat koleksi foto…see the old me…see the old us… Seeing how life can be so complicated now. How easy for me to start a chat and say “let’s go” or “lagi ngapain” or  “I miss you” at that time.

Hampir semua foto (yang aku punya) hanya ngerekam momen bahagia. Dan aku bersyukur atas hal itu, karena aku ga perlu ingat gimana awal mula rasa canggung itu muncul. Aku hanya melihat kita yang tertawa.

Orang datang dan pergi, dan mungkin emang ini yang harus kita jalani. I am thanking God for it, for allowing me to meet you all. And now I’ve found other people to laugh with. Ga akan pernah sama dengan yang dulu, dan orang-orang yang sekarang pun kelak akan menjadi masa lalu. Tapi seperti foto2 yang aku liat sekarang, mereka akan menyisakan potongan kenangan yang memberikan pelajaran.

Jangan kebanyakan protes “si dia sekarang kok gini ya”, “si anu sekarang kok gitu ya”…inilah hidup, perubahan itu keniscayaan. Mereka berubah, dan berkacalah bahwa itu pun terjadi pada diri kita. Prioritas akan membawa kita pada titik pijakan saat ini. Jadi, misal ada temen yang sekarang jadi susah diajak ngobrol atau ketemuan, ya pahamilah bahwa dia juga sedang mengejar apa yang menjadi prioritasnya. Dan secara tidak sadar kita juga menjadi subjek “perubahan” dari sudut pandang orang lain.

Nikmati saat ini, kita ga akan pernah tau kapan momen2 itu hilang dan berganti. Aku emang enjoy saat di mana aku nengok ke belakang sesekali dan ngebayangin kejadian masa lalu, tapi ya ga lama-lama, apalagi sampe terjebak dalam nostalgia.

Bukan melupakan, bukan meninggalkan persahabatan. Tapi terus melangkah dan tetap tersenyum. Menghargai mereka yang datang dan menghormati mereka yang pergi. Mengambil hikmah yang indah dari semua yang terlewati. Dan ketika suatu saat kita berhadapan lagi, mungkin ga akan tercipta obrolan seru seperti dulu, mungkin rasa canggung itu akan mendominasi. Selama pandangan mata kita masih bisa bertemu dan saling melempar sapa serta senyuman, saat itulah kita dapat menghargai arti dari kenangan.

Antara Tuhan dan Aku

Cinta itu bernama Tuhan

Yang memelukku melalui banyak perantara ketika kekhawatiran datang

Cinta itu bernama Tuhan

Yang tidak pernah beranjak sekalipun langkah kakiku berlawanan

Cinta itu bernama Tuhan

Yang menunjukkan kasihNya dengan cara yang paling sakit sekaligus paling menawan

Cinta itu bernama Tuhan

Yang sudah berapa banyak perintahNya yang aku tanggalkan

Cinta itu bernama Tuhan

Yang sifat pemaafNya tak pernah berkurang sekalipun aku terus membangkang

Cinta itu bernama Tuhan

Yang tidak sekalipun tetesan air mataku Dia abaikan

Cinta itu bernama Tuhan

Yang kitab suci dariNya tak pernah salah dalam memberikan peringatan

 

Picik itu bernama manusia

Terus mendahulukan kepentingannya kemudian berlindung pada istilah “mekanisme pertahanan jiwa”

Picik itu bernama manusia

Begitu mudahnya melihat kesalahan orang lain namun kesulitan melihat kesalahannya

Picik itu bernama manusia

Tak tau cara berterima kasih, hanya bisa terus mengeluh dan meminta

Picik itu bernama manusia

Mendekatkan diri pada penguasa dan menginjak yang rekasa

Picik itu bernama manusia

Hanya menangis dan berdoa pada penciptaNya ketika musibah sudah tampak nyata

Picik itu bernama manusia

Yang mudah terlena bila dunia sudah kembali memeluknya

Picik itu bernama manusia

Tidak pernah belajar dari teguran yang datang menyapa

 

Cinta itu bernama Tuhan…

Dan picik itu bernama Aku…

Merapi -sepertinya- Tak Pernah Ingkar Janji

 

Di sini aku mulai dengan dua orang sahabat yang suka mendaki. Berpikiran sederhana, tidak membuat suatu hal jadi rumit, itu yang aku suka dari mereka. Sebut saja mereka “AB”.

IMG-20161029-WA0044

kedua oknum AB sedang sesi pemotretan

PicsArt_03-22-01.22.22

peserta berguguran…

 

 

Kisah ini terjadi kira-kira pada bulan Oktober tahun 2016. Pada suatu ketika di sebuah grup WA, tercetuslah rencana melakukan perjalanan tadabur alam semacem camping yang ringan dan cantik. Semula peminatnya cukup banyak, tapi seperti rencana pada umumnya, peminat berguguran di menit-menit akhir. Akhirnya tinggallah 3 orang peminat yang tersisa; AB dan aku.

 

 

PicsArt_03-22-01.24.02

Entah apa yang AB bicarakan di luar grup WA itu, aku hanya mempersiapkan diri untuk sebuah perjalanan ringan. Waktu keberangkatan ditentukan, and my bag was packed. Kemudian telepon berdering…suara di ujung sana mengonfirmasi kesiapan mereka untuk berangkat dan penentuan meeting point. Sebelum menutup telepon ada sebuah pertanyaan “Fisik?”, dan aku pun menjawab “Great, as always”. Dan tetiba ada announcement di grup bahwa “Jadinya Merapi, siapkan perlengkapan tempur”. Hahahahaha, mereka berhasil bikin aku ndoplong!! Kagetku ga lama, segera aku sadar kalo yang mereka rencanakan itu serius, dan langsung ambil langkah buat preparasi.

Tas dibongkar, perlengkapan tempur disusun ulang. Tas ransel daypack berubah jadi carrier dengan isi lengkap. Baju biasa and celana jeans ganti jadi kaos dan celana kebangsaan buat naik. Sendal jepit ganti sendal gunung favorit. Semua disiapkan dalam waktu 15 menit.

Ketemu di meeting point, kami berangkat menuju Selo. Ngikik aku pas liat salah satu personil AB pake celana sepakbola, kaos jersey sepedahan, tapi dengan sepatu trekking nya. Perpaduan yang luar biasaaaaa….aneh!! Tapi ya karena AB itu berpikiran sederhana, yang penting “marwah”nya…

IMG-20161029-WA0025

the basecamp…tepat sebelum memulai…

Sampailah kami di basecamp Barameru, tempat pendakian Merapi dimulai. Kelar mendata diri, kami memulai perjalanan perlahan. Target: sebisanya, sesampainya. Awal perjalanan tidak terlalu berat, jalan berlapis semen, menanjak, beberapa belokan…kemudian muncullah semacam hutan dengan jalanan cukup terjal… Setelah melalui perjalanan yang (kami rasa) cukup panjang, kurang lebih 2 jam, tampak sebuah persinggahan, dan ternoktahkan “pos 1” di sebuah papan. Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Kami putuskan membuka tenda dan beristirahat, dengan niat akan memulai perjalanan kami lagi di pagi hari, sesuai target kami di awal: sebisanya, sesampainya.

 

IMG-20161029-WA0018

Tendanya di tengah jalan, hahahaha…

 

Pagi menjelang, baru kami sadar kalo tenda kami berdiri di tengah jalan yang dilalui pada pendaki lain. Banyak langkah kaki bergerudukan di pagi hari sambil berucap “permisiiiii”, yang akhirnya membuat mata kami terbuka lebar dan sadar diri untuk ikut melanjutkan perjalanan.

 

 

PicsArt_10-29-06.52.23

Hari yang cerah dan membahagiakan… kami melangkahkan kaki dengan suka cita, berbekal 1 tas kecil saja dan meninggalkan semua beban berat di tenda. Tenda dipastikan tertutup rapat sebelum kami pergi, karena memang di pos 1-2 dikenal banyak monyet “penasaran” yang mengajak bercanda para pendaki dengan “merapikan” interior tenda. Bukan bukit berbunga yang dilewati, karena merapi merupakan gunung berapi paling aktif di dunia. Perjalanan dari pos 1 ke pos 2 adalah yang terberat kedua menurut versiku (yang paling berat akan dideskripsikan di paragraf selanjutnya). Batu dan kerikil terjal menghiasi perjalanan kami, dan pastinya membentuk inklinasi naik yang akan menuntun ke tempat yang lebih tinggi. Beberapa kali kami ketemu pendaki lain dan saling menyapa. Lumayan, hiburan kan kalo tau kita ga ngesot-ngepot sendirian, hahahaha…

 

IMG-20161029-WA0034

tulisannya begitu…

Daaaaaannnn…setelah berjalan kurang lebih 2.5 jam, kami tiba di pasar bubrah. Tertulis di sana bahwa tempat itu adalah batas aman pendakian. Tapi pasar bubrah bukanlah puncak yang kami tau. Kami mengenal istilah “Puncak Garuda”, yang telah hilang akibat erupsi sebelumnya, dan berganti menjadi “Puncak Limas” sekarang.

Kami duduk untuk rehat dan melihat sekitar. Ternyata banyak pendaki yang memutuskan membuka tendanya di lokasi itu. Tak puas dengan tanda larangan dan melihat keberhasilan pendaki lain kembali dari atas sana, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak, setelah sebelumnya makan cemilan dan minum susu sebagai sumber energi.

 

0

“PASAR BUBRAH”, pos pendakian terakhir Merapi…

 

Kalo boleh jujur, hampir sepanjang perjalanan muncak dengan inklinasi 45-60o itu aku lalui dengan setengah merangkak. Cukup berbeda dengan 2 temanku yang –sepertinya- cukup lancar melangkahkan kaki. Medan inilah yang paling berat menurut nersi “ondesepot”. Pasir, kerikil, dan juga batu…sangat mudah membuat sandal gunungku slip sepanjang waktu. Lelah, rasanya ingin menyerah saja dan kembali turun. Tapi aku berada di antara 2 orang yang pantang mundur. Mereka menatap puncak dengan penuh keyakinan, dan keyakinan mereka menular padaku, jadi tetep semangat juga meski kepleset ratusan kali. Kadang terbayang gimana nasib badan ini kalo kepleset dan ngglindhing jatoh ke bawah. Tapi segera kusingkirkan jauh-jauh pikiran negatif itu, sambil mencari pijakan menuju puncak. Oknum AB1 “membuka rute” di depan, dan oknum AB2 mengikutiku dari belakang. Pendaki amatir sepertiku cukup merasa tenang hanya sekedar yakin kalo jalannya ga nyasar karena diapit 2 orang “profesional”, hahahaha…

IMG-20161029-WA0036

Maaakkk….anakmu yang unyu2 sampe puncak Merapi, Maaakkk…

 

Dan sampailah kami di Puncak Limas, dengan waktu tempuh kurang lebih 1.5 jam dari Pasar Bubrah. Ya, kami di Puncak Limas. Ya, kami yang hanya memasang target sebisanya dan sesampainya ini sampai di Puncak Merapi. Alhamdulillaaaaahhhh….puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa… dengan rahmat dan karunia-Nya… penjajahan di atas dunia harus dihapuskaaaaannn…

(maap mulai ngaco)

 

 

 

IMG-20161029-WA0039

merayakan sampe di puncak dengan makan apel dan minum syusyu…

 

IMG-20161029-WA0041

perosotan bangke pas turun, hahahaha…

Setelah puas makan apel, minum susu, dan poto-poto di puncak Limas, kami berniat kembali turun. Iya, turun, karena kami harus pulang ke Jogja hari itu juga, demi tugas negara yang sudah menjadi tanggung jawab kami di sana. Waktu turun lebih cepat dibandingkan waktu nanjak, kami makan waktu sekitar setengah jam untuk sampai kembali ke Pasar Bubrah. Yaiyalah secara hampir semacem main perosotan…tapi perosotan kerikil yang bikin celana sobek dan pantat lecet. Dan apesnya adalah waktu main perosotan itu kakiku keseleo. Awalnya memang tidak terlalu terasa, tapi makin lama makin membara. Cidhuuuuuuk!!! Masih ada jalan jauh yang harus dilewatin dan itu kaki ngehek semena-mena…

Sampai di tenda kami di pos 1, diputuskan untuk istirahat dulu. Selain karena sedang gerimis di luar sana, tenaga kami juga perlu dipulihkan. Saat germis reda kami melanjutkan perjalanan pulang. Yah, mau kaki sengehek apa juga tetep kudu turun kan. Karena jalan pulang sekarang sudah lebih kukenali (dan ini masih siang hari), aku mengikhlaskan AB meluncur duluan, dan aku memilih “alon-alon waton kelakon” sebagai tema perjalanan turun.

Setelah sekian waktu, jalanan setapak dengan semen sudah mulai tampak, tanda tujuanku sudah semakin dekat. Aku berusaha mempercepat langkah tapi sepertinya percuma karena kaki ini makin meronta. Yasudah yang penting bergerak, mau dengan kecepatan siput juga gak apa.

Daaaaaannn….touch down!! Kembali di basecamp Barameru!!! Senaaaaaang…karena kaki ini bisa diistirahatkan. Kecepatan perjalanan turunku gak bisa dijadikan patokan yes, mengingat prinsip “alon-alon waton kelakon” akibat perngehekan tadi. Setelah rehat seperlunya, kami bertolak pulang ke Jogja…kembali ke aktivitas sebagai mahasiswa. Selama perjalanan pulang itu, aku berpikir keras…sepertinya harus beli sendal atau sepatu gunung baru…karena ternyata sol sendal gunungku udah habis-tipis digerus pasir dan kerikil merapi…

Freedom of Mine

I am young, I am free

I am curious, I am passionate

I run to the coast to sound my roar

I hike to mountain and sing in the silence

I draw my life through a silver lining

I paint my dream with green stain

I fall in love with no reason

I get angry sometimes

I thank to everything good

I complain about bad things once

 

I give mine without regret

I receive gifts with a lot of laughs

I dance through the rain with the cloak

I bike on sunny day to feel the warmth

 

I live my life to the fullest

Until my God asks me to go back

In the end, here I am, as a dream chaser

And noone can stop me from dreaming…DSC_0199

A Little Moment – Mt.Prahu

Akhirnya saya kembali “jalan” ke gunung setelah sekian lama. Ga nyangka bisa ikutan, bener-bener ga nyangka.

Sebelumnya saya sering mendengar teman saya berniat muncak, rasa rindu melambai-lambai bagai nyiur di pantai. Saya pengen banget gabung sama mereka, tapi sepertinya belum ada kesempatan. Kemudian datanglah tawaran dari senior saya yang diajak oleh “anak gunung”. Saya konfirmasi ke “anak gunung” tersebut, sepertinya sudah tidak ada tempat di sana. Ya, saya kecewa, sepertinya rombongan ini terbatas, dan saya tidak masuk dalam komunitas mereka. Saya sudah mengikhlaskan, sambil berharap di weekend ini saya akan menciptakan perjalanan saya sendiri.

Namun tiba-tiba ada yang berubah. Saya tidak tau kenapa (dan saya juga tidak peduli sebenernya, hahaha) mereka memasukkan saya ke dalam grup media komunikasi “anak gunung”. Saya cuma bisa melihat, dan sedikit berkomentar, toh saya juga belum bisa ikut traveling mereka. Ternyata saya salah. Rupanya mereka mengijinkan saya ikut. Ah, senangnya. Tujuan pun diputuskan; Gunung Prahu di kawasan Dieng menjadi destinasi kami. Kami berjanji untuk siap berangkat menuju Dieng pada pukul 20.00 hari Jumat. Apa daya, pelayanan membuatku harus bertahan di RS sampai pukul 20 lewat. Saya sudah memberitahukan kepada salah seorang anggota bahwa saya siap ditinggal bila memang dinilai terlalu lama. Saya benar-benar tidak mau menjadi beban tim ini.

Akhirnya tugas selesai pada jam 20.10, terkonfirmasi rombongan belum berangkat, saya langsung kembali ke kosan saya yang memang tidak terlalu jauh dari RS. Persiapan saya nol besar. Semua perlengkapan “jalan” saya ada di Semarang, jadilah saya packing seadanya. Jaket, minuman, dan survivor kits masuk ke dalam tas ransel biasa alih-alih carrier. Ya, saya berniat “muncak” hanya berbekal rasa rindu. Tepat pukul 20.20 saya sudah berada di meeting point. Cepat? Kan tadi udah bilang kalo bekal saya cuma rasa rindu…:p

Rombongan Mobil 1; pre-chief, komandan ICU, komandan IGD

Rombongan Mobil 1; pre-chief, komandan ICU, komandan IGD

Dengan 2 mobil kami berangkat menuju ke arah barat. Dalam waktu 3 jam kami sudah sampai di “base camp”, tempat mobil diinapkan. Setelah melakukan persiapan seperlunya, kami mulai pendakian. Medan pendakiannya tidak ringan, tp juga tidak terlalu berat, sudut inklinasi dan keterjalan menuju pos pertama dan kedua cukup bisa dijangkau kaki saya yang sudah lama tidak terlatih. Mulai pos 2 menuju ke pos 3 medannya lebih unyu dan menantang. Saya menolak berhenti terlalu lama karena rasa dingin yang menggerayangi setiap saya mencoba beristirahat.

Puncak tertaklukkan pada pukul 03.00 dini hari. Sudah banyak pendaki lain membuat tenda di sana, tapi tidak ada satu pun yang mebuat api unggun karena memang ada larangan tegas untuk hal itu. Angin di puncak cukup menggiurkan. Mungkin suhu dinginnya masih bisa ditahan, tapi terpaan angin yang dahsyat pada suhu segitu cukup membuat termoregulator saya mengaktifkan program “shivering”.

We're on the top!! Ayeay!!

We’re on the top!! Ayeay!!

Tenda tegak, kompor dinyalakan. Kopi terseduh, mie instan sudah siap. Sejenak lupa pada gastritis saya, saya pun ikut menyeruput kopi yang ada (dan saya tidak menyesal meski harus minum obat setelahnya). Tujuh peserta tidur dengan posisi “pisang plenet” dalam 1 tenda kapasitas 4 orang karena tidak ada pilihan. Satu orang dengan sleeping bag tebal nekat tidur di luar tenda karena sudah tidak ada tempat lagi di dalam tenda. Hmmm, tidur di luar tanpa sleeping bag tampaknya bukan pilihan yang bijaksana.

Fajar datang, di ufuk timur tampak 4 puncak gunung memandang balik ke arah kami yang sedang terpesona melihatnya; Sindoro, Sumbing, Merapi dan Merbabu tampak kokoh menembus awan. Selalu dan selalu saya ulangi dalam kepala; Maha Besar dan Indah Penciptanya. Menunggu si telor ceplok muncul, foto selfie, wefie, dan fie2 lainnya kami lakukan. Setelah berhasil “menangkap” si telor ceplok, kami menuruni lembah dan berpindah ke puncak di sebelah barat. Tampak gunung Slamet gagah berdiri. Di bawah tampak juga telaga warna yang indah memanjakan mata. Seluruh letih, peluh, dan dingin itu tidak dapat menghalangi kami untuk menikmati indahnya semesta. Bukit teletubbies cukup menggoda saya untuk membuat drama, tapi menempuh tiap lembah dan bukitnya dalam kondisi lapar sepertinya tidak berefek baik pada kondisi tubuh saya, terutama lutut.

IMG_20151031_051258

Matahari terbit, disambut 2 pasang gunung; Merapi-Merbabu dan Sindoro-Sumbing

IMG_20151031_052051

Udah ada matahari pun, si Komandan ICU masih freezing :p

IMG_20151031_053503

Ngeliat ada tongsis?? ya, itulah kelakuan kami…banci wefie…

IMG_20151031_055232

nyoba selfie tanpa tongsis, dengan background Telaga Warna dan Gunung Slamet

IMG-20151031-WA0078

Pura-puranya jadi boyband…tapi kenapa itu pre-chief nungging yes -____-“

Waktu makin siang, kami sadar harus segera pulang karena tugas telah menanti. Barang dan sampah kami kemasi. Dengan mengingat rute tadi malam yang kami lalui, saya jadi sedikit merinding membayangkan medan turunannya. Dan benar, pasir durjana sukses membuat saya beberapa kali terpeleset dan main plosotan pasir beralas batu. Pantat pedes dan lutut tremor. Alhamdulillah saya makin terbiasa, dan selanjutnya lebih jarang terpeleset.

Sampai kembali di kaki gunung, seorang ibu pemilik toko menawarkan kami menggunakan kamar mandinya secara gratis. Ah, baik sekali ibu ini. Saya hanya cuci muka dan cuci kaki, celana yang sudah seperti petani nyemplung ke sawah tetap saya pake, daripada ga pake celana. Beberapa teman ada yang sempet-sempetnya mandi, luar biasa.

IMG-20151031-WA0096

hasil wefie dengan bantuan tongsis (keliatan tu bayangan kameranya)

Perjalanan pulang pun kami mulai. Wajah lelah berhiaskan senyuman menghiasi wajah teman-teman, dan juga saya. Mampir sebentar ke mie ongklok di wonosobo, teman-teman saya menyantap menu dengan sigap dan cepat, sedangkan saya cukup makan mendoan saja, hahahaha…

IMG-20151031-WA0093

Turun gunung, lanjut makan mie ongklok…rupanya ada yang sangat menikmati sampe merem-melek gitu…

Pukul 16.30 saya sudah di Yogyakarta lagi, bersiap melanjutkan tugas pelayanan yang menjadi tanggung jawab saya. Hati berucap banyak syukur, kelar perjalanan ini saya mendapat banyak hal: waktu untuk menikmati perjalan, teman-teman perjalanan baru yang menyenangkan, dan kesempatan melanjutkan pendidikan. Perjalanan indah yang sangat layak untuk dikenang…

IMG-20151101-WA0043

Masih penasaran siapa yang motret ini…sukaaaaa….