Merapi -sepertinya- Tak Pernah Ingkar Janji

 

Di sini aku mulai dengan dua orang sahabat yang suka mendaki. Berpikiran sederhana, tidak membuat suatu hal jadi rumit, itu yang aku suka dari mereka. Sebut saja mereka “AB”.

IMG-20161029-WA0044

kedua oknum AB sedang sesi pemotretan

PicsArt_03-22-01.22.22

peserta berguguran…

 

 

Kisah ini terjadi kira-kira pada bulan Oktober tahun 2016. Pada suatu ketika di sebuah grup WA, tercetuslah rencana melakukan perjalanan tadabur alam semacem camping yang ringan dan cantik. Semula peminatnya cukup banyak, tapi seperti rencana pada umumnya, peminat berguguran di menit-menit akhir. Akhirnya tinggallah 3 orang peminat yang tersisa; AB dan aku.

 

 

PicsArt_03-22-01.24.02

Entah apa yang AB bicarakan di luar grup WA itu, aku hanya mempersiapkan diri untuk sebuah perjalanan ringan. Waktu keberangkatan ditentukan, and my bag was packed. Kemudian telepon berdering…suara di ujung sana mengonfirmasi kesiapan mereka untuk berangkat dan penentuan meeting point. Sebelum menutup telepon ada sebuah pertanyaan “Fisik?”, dan aku pun menjawab “Great, as always”. Dan tetiba ada announcement di grup bahwa “Jadinya Merapi, siapkan perlengkapan tempur”. Hahahahaha, mereka berhasil bikin aku ndoplong!! Kagetku ga lama, segera aku sadar kalo yang mereka rencanakan itu serius, dan langsung ambil langkah buat preparasi.

Tas dibongkar, perlengkapan tempur disusun ulang. Tas ransel daypack berubah jadi carrier dengan isi lengkap. Baju biasa and celana jeans ganti jadi kaos dan celana kebangsaan buat naik. Sendal jepit ganti sendal gunung favorit. Semua disiapkan dalam waktu 15 menit.

Ketemu di meeting point, kami berangkat menuju Selo. Ngikik aku pas liat salah satu personil AB pake celana sepakbola, kaos jersey sepedahan, tapi dengan sepatu trekking nya. Perpaduan yang luar biasaaaaa….aneh!! Tapi ya karena AB itu berpikiran sederhana, yang penting “marwah”nya…

IMG-20161029-WA0025

the basecamp…tepat sebelum memulai…

Sampailah kami di basecamp Barameru, tempat pendakian Merapi dimulai. Kelar mendata diri, kami memulai perjalanan perlahan. Target: sebisanya, sesampainya. Awal perjalanan tidak terlalu berat, jalan berlapis semen, menanjak, beberapa belokan…kemudian muncullah semacam hutan dengan jalanan cukup terjal… Setelah melalui perjalanan yang (kami rasa) cukup panjang, kurang lebih 2 jam, tampak sebuah persinggahan, dan ternoktahkan “pos 1” di sebuah papan. Jam sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Kami putuskan membuka tenda dan beristirahat, dengan niat akan memulai perjalanan kami lagi di pagi hari, sesuai target kami di awal: sebisanya, sesampainya.

 

IMG-20161029-WA0018

Tendanya di tengah jalan, hahahaha…

 

Pagi menjelang, baru kami sadar kalo tenda kami berdiri di tengah jalan yang dilalui pada pendaki lain. Banyak langkah kaki bergerudukan di pagi hari sambil berucap “permisiiiii”, yang akhirnya membuat mata kami terbuka lebar dan sadar diri untuk ikut melanjutkan perjalanan.

 

 

PicsArt_10-29-06.52.23

Hari yang cerah dan membahagiakan… kami melangkahkan kaki dengan suka cita, berbekal 1 tas kecil saja dan meninggalkan semua beban berat di tenda. Tenda dipastikan tertutup rapat sebelum kami pergi, karena memang di pos 1-2 dikenal banyak monyet “penasaran” yang mengajak bercanda para pendaki dengan “merapikan” interior tenda. Bukan bukit berbunga yang dilewati, karena merapi merupakan gunung berapi paling aktif di dunia. Perjalanan dari pos 1 ke pos 2 adalah yang terberat kedua menurut versiku (yang paling berat akan dideskripsikan di paragraf selanjutnya). Batu dan kerikil terjal menghiasi perjalanan kami, dan pastinya membentuk inklinasi naik yang akan menuntun ke tempat yang lebih tinggi. Beberapa kali kami ketemu pendaki lain dan saling menyapa. Lumayan, hiburan kan kalo tau kita ga ngesot-ngepot sendirian, hahahaha…

 

IMG-20161029-WA0034

tulisannya begitu…

Daaaaaannnn…setelah berjalan kurang lebih 2.5 jam, kami tiba di pasar bubrah. Tertulis di sana bahwa tempat itu adalah batas aman pendakian. Tapi pasar bubrah bukanlah puncak yang kami tau. Kami mengenal istilah “Puncak Garuda”, yang telah hilang akibat erupsi sebelumnya, dan berganti menjadi “Puncak Limas” sekarang.

Kami duduk untuk rehat dan melihat sekitar. Ternyata banyak pendaki yang memutuskan membuka tendanya di lokasi itu. Tak puas dengan tanda larangan dan melihat keberhasilan pendaki lain kembali dari atas sana, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak, setelah sebelumnya makan cemilan dan minum susu sebagai sumber energi.

 

0

“PASAR BUBRAH”, pos pendakian terakhir Merapi…

 

Kalo boleh jujur, hampir sepanjang perjalanan muncak dengan inklinasi 45-60o itu aku lalui dengan setengah merangkak. Cukup berbeda dengan 2 temanku yang –sepertinya- cukup lancar melangkahkan kaki. Medan inilah yang paling berat menurut nersi “ondesepot”. Pasir, kerikil, dan juga batu…sangat mudah membuat sandal gunungku slip sepanjang waktu. Lelah, rasanya ingin menyerah saja dan kembali turun. Tapi aku berada di antara 2 orang yang pantang mundur. Mereka menatap puncak dengan penuh keyakinan, dan keyakinan mereka menular padaku, jadi tetep semangat juga meski kepleset ratusan kali. Kadang terbayang gimana nasib badan ini kalo kepleset dan ngglindhing jatoh ke bawah. Tapi segera kusingkirkan jauh-jauh pikiran negatif itu, sambil mencari pijakan menuju puncak. Oknum AB1 “membuka rute” di depan, dan oknum AB2 mengikutiku dari belakang. Pendaki amatir sepertiku cukup merasa tenang hanya sekedar yakin kalo jalannya ga nyasar karena diapit 2 orang “profesional”, hahahaha…

IMG-20161029-WA0036

Maaakkk….anakmu yang unyu2 sampe puncak Merapi, Maaakkk…

 

Dan sampailah kami di Puncak Limas, dengan waktu tempuh kurang lebih 1.5 jam dari Pasar Bubrah. Ya, kami di Puncak Limas. Ya, kami yang hanya memasang target sebisanya dan sesampainya ini sampai di Puncak Merapi. Alhamdulillaaaaahhhh….puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa… dengan rahmat dan karunia-Nya… penjajahan di atas dunia harus dihapuskaaaaannn…

(maap mulai ngaco)

 

 

 

IMG-20161029-WA0039

merayakan sampe di puncak dengan makan apel dan minum syusyu…

 

IMG-20161029-WA0041

perosotan bangke pas turun, hahahaha…

Setelah puas makan apel, minum susu, dan poto-poto di puncak Limas, kami berniat kembali turun. Iya, turun, karena kami harus pulang ke Jogja hari itu juga, demi tugas negara yang sudah menjadi tanggung jawab kami di sana. Waktu turun lebih cepat dibandingkan waktu nanjak, kami makan waktu sekitar setengah jam untuk sampai kembali ke Pasar Bubrah. Yaiyalah secara hampir semacem main perosotan…tapi perosotan kerikil yang bikin celana sobek dan pantat lecet. Dan apesnya adalah waktu main perosotan itu kakiku keseleo. Awalnya memang tidak terlalu terasa, tapi makin lama makin membara. Cidhuuuuuuk!!! Masih ada jalan jauh yang harus dilewatin dan itu kaki ngehek semena-mena…

Sampai di tenda kami di pos 1, diputuskan untuk istirahat dulu. Selain karena sedang gerimis di luar sana, tenaga kami juga perlu dipulihkan. Saat germis reda kami melanjutkan perjalanan pulang. Yah, mau kaki sengehek apa juga tetep kudu turun kan. Karena jalan pulang sekarang sudah lebih kukenali (dan ini masih siang hari), aku mengikhlaskan AB meluncur duluan, dan aku memilih “alon-alon waton kelakon” sebagai tema perjalanan turun.

Setelah sekian waktu, jalanan setapak dengan semen sudah mulai tampak, tanda tujuanku sudah semakin dekat. Aku berusaha mempercepat langkah tapi sepertinya percuma karena kaki ini makin meronta. Yasudah yang penting bergerak, mau dengan kecepatan siput juga gak apa.

Daaaaaannn….touch down!! Kembali di basecamp Barameru!!! Senaaaaaang…karena kaki ini bisa diistirahatkan. Kecepatan perjalanan turunku gak bisa dijadikan patokan yes, mengingat prinsip “alon-alon waton kelakon” akibat perngehekan tadi. Setelah rehat seperlunya, kami bertolak pulang ke Jogja…kembali ke aktivitas sebagai mahasiswa. Selama perjalanan pulang itu, aku berpikir keras…sepertinya harus beli sendal atau sepatu gunung baru…karena ternyata sol sendal gunungku udah habis-tipis digerus pasir dan kerikil merapi…

Advertisements

5 thoughts on “Merapi -sepertinya- Tak Pernah Ingkar Janji

  1. Pingback: Travel Backpack Sisterhood – Day dreamer's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s