Pulau Sempu (part 2): Kenyataan Di Luar Dugaan

Yak!! Kami pun menjejakkan kaki di Pulau Sempu setelah sekitar 10—15 menit perjalanan dengan perahu. Hal pertama yang kami lakukan adalah: girang!!

Dan semua itu berubah ketika negara api menyerang….

Aku dan 3 orang temanku sudah mempersiapkan diri menghadapi hutan, yah aku dan partner in crime ku toh pernah menyusuri salah satu hutan di Lombok. Tapiiiiiiii…..ini di luar perkiraankuuuuu…..

Pertama kami melalui jalan setapak yang masih datar-datar saja. Ah, kurang menantang lah. Kira-kira setengah jam berjalan sang porter menawarkan istirahat. Ya, aku sih oke2 aja, pun ke-3 temanku yang unyu. Istirahat sekitar 5 menit, kami melanjutkan perjalanan. Medannya berubah saudara-saudaraaaa!!! Hutan belantara itu nyata!!! Jalan setapak yang berliku dan bercabang-cabang, tanjakan batu karang, rerimbun pepohonan yang menghalangi jalan, tebing-tebing curam, pijakan kaki yang berlumpur-licin-dan tidak stabil….ah, aku jadi tau kenapa harus memakai sepatu khusus itu!!!

Carrier ku yang sudah berubah isi menjadi gudang persediaan makanan memang direncanakan dibawa oleh porter sepanjang perjalanan. Berat?? Pastinya!! Konsekuensinya aku harus membawa tas tenda (yang samasekali gak nyaman sebagai tas punggung) n ransum makanan di tas plastik yang….ah, kebayang gak trekking medan heboh gitu bawa2 kresek belanjaan?? Hufth….

Sebenernya kalo liat temen-temenku yang lain gak kalah menderita juga sih, mungkin akunya aja yang lebayatun binti lebayudin dalam menanggapi masalah kresek-makanan-yang-nyaris-membuatku-kepleset-berkalikali-dan-mengganggu-keseimbangan itu. Tapi untung aku punya teman-teman yang baik hati. Mereka menawari membawakan sebagian beban dalam kresek (yang sebenarnya di medan biasa gak terlalu berat) itu. Ya, akhirnya dibagilah beban itu. Yang semula aku membawa 2 buah kresek, sekarang menjadi satu aja. Dan semakin lama aku semakin ahli menempatkan kresek itu di tanganku, so sisa perjalanan kami tidak lagi diganggu masalah kresek belanjaan, hahahaha….

Dua orang dalam perjalanan kami (setauku) belum pernah melakukan “tadabur alam” seperti yang aku dan partner-in-crime ku lakukan. Aku agak sedikit khawatir, sepertinya aku melihat kekhawatiran yang sama di mata partner-in-crime ku. Tapi mereka cukup tangguh juga, mengingat perjalanan macam ini adalah yang pertama kali bagi mereka.

Bapak porter kami juga tampak kelelahan, dia berkali-kali menyarankan istirahat untuk sekedar minum dan meletakkan beban sebentar (secara memang itu carrier yang dibawanya berat banget, meski salah satu temenku bilangnya masih biasa aja –coz dia mister muscle gitu).

Saking super becek dan licinnya itu jalan, 3 dari 4 orang rombongan kami (Bapak porter gak diitung), pernah kepleset. Bahkan temenku ada yang kepleset sampe 3 kali gara2 salah pilih sepatu, sepatunya uda gak “nggigit” lagi (dan sebenernya yang milih sepatu itu adalah akuuuuu). Bagaimana nasibku?? Ohohoho, aku gak kepleset dung yaaa…*sakti*

Dua jam!! Ya, dua jam perjalanan dahsyat itu aku lalui. Dan saat melihat ada garis danau, aku makin semangat berjalan. Medan tebing curam itu gak terlalu kuperhatiin. Fokusku terus melaju di jalan setapak yang ditunjukkan oleh Bapak porter. Di belakangku masih ada 2 orang yang mengikuti. Yang belakangan aku tau mereka sepertinya sempat kehilangan jejak. Tapi Tuhan (selalu) Maha Baik, temanku gak nyasar karena ada beberapa orang yang juga sedang menuju tempat yang sama dengan kami, dan menunjukkan mereka jalan kebenaran (alhamdulillaaaah…)

Selama perjalanan itu aku baru sadar, kami tidak pernah menemukan foto jalur trekking di Pulau Sempu. Kami tidak sempat mengeluarkan kamera kecuali saat beristirahat. Itu pun berisiko kamera rusak karena kena air atau lumpur. Atau malah kena tangan yang kotornya udah tak terperi.

Daaaaaannnn….sampailah kami, 4 orang lugu dan tidak tau apa-apa ini, ke tepi Segara Anakan. Sebuah laguna yang indah, yang diapit oleh bukit-bukit karang yang gagah, dihiasi karang bolong di sudut barat daya-nya. Tanpa ba-bi-bu, kami letakkan semua beban, meluncur keren masuk ke dalam air. Sebelum Bapak porter pamit, dia sempat berpesan pada kami untuk mengambil foto matahari terbit di balik tebing di sebelah selatan esok hari…

(to be continued)

Advertisements

One thought on “Pulau Sempu (part 2): Kenyataan Di Luar Dugaan

  1. Pingback: Travel Backpack Sisterhood – Day dreamer's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s